Meskipun nas Minggu I Advent ini mengandung makna eskhatologis, yakni kedatangan Kristus kedua kali ke dunia ini dengan segala kemuliaanNya, namun kotbah ini juga mengingatkan kita agar dengan sungguh-sungguh mempersiapkan diri menanti kedatanganNya. Mungkin setiap hari dan setiap kita merasakan tantangan hidup semakin berat, bagaikan sedang menghadapi peperangan yang maha dahsyat, cobaan dan godaan silih berganti, seakan tiada pernah berhenti menghampiri. Bagi orang benar itu merupakan ujian yang harus dimenangkan. Pertaruhkan hidupmu atas nama Tuhan dan jauhkan kejahatan yang berusaha selalu menghampirimu. Oleh sebab itu, berserulah kepadaNya dan percaya bahwa pertolonganNya akan datang segera.
Bagaikan sinar mentari yang datang menghapus kegelapan, demikian kiranya kedatangan Tuhan mengalahkan segala kejahatan. Dusta, ketidakadilan, penindasan dan kebebalan yang saat ini masih merajalela di dunia, pada waktunya kelak ketika “Sang Raja Adil, Anak Allah” datang dengan kemulianNya, pasti akan dikalahkan. Tidak ada kejahatan yang dapat bertahan dihadapanNya. Oleh sebab itu, jangan kamu bersandar kepada kekuatan-kekuatan jahat dan menyesatkan. Tetapi andalkanlah Tuhan di dalam setiap aktivitas hidupmu. Sambutlah kehadiran Tuhan, karena Dia akan memberikan kesukaan besar bagi orang-orang benar.
Ketika Dia datang, biarlah pelita imanmu tetap menyala dan bercahaya. Saat ini yang perlu adalah “persiapkan dirimu menyambut kedatanganNya”. Mari berusaha dan turut mewujudkan pemerintahan yang adil, jujur dan benar di hadapan Tuhan. Buang segala dusta, kejahatan dan kebebalan dalam hidupmu. Bukalah mata untuk melihat jalan Tuhan, bukalah telinga untuk mendengar suaraNya, bukalah hati untuk menimbang-nimbang kebenaranNya dan bukalah bibir untuk memuji kemulianNya (band. 1 Pet. 3:10-12) . Akhirnya, mari bersama-sama dengan seluruh orang yang merindukan Tuhan, berjalan di jalan yang benar dan nyatakan dengan penuh sukacita, “maranata” Tuhan datanglah segera!.
Selamat Advent.
Kritik, Saran, Kesaksian
27 November 2010
Khotbah : Yesaya 32 : 1 - 8
24 Agustus 2010
Doa yang dikabulkan
Kita perlu berdoa untuk mengundang Tamu jiwa yang Maha Pengasih, membangun persatuan akrab dengan Tuhan Bapa kita, dengan Yesus, dengan Roh Kudus. Doa ibarat udara yang kita perlukan untuk bernapas. Doa memegang kunci penyelamatan abadi, luangkan waktu sejenak untuk berdoa secara khusus maupun lewat doa batin, karena Yesus meminta kita untuk selalu berdoa agar dapat memperoleh kekuatan Kudus.
Read More......10 Juli 2010
Boleh Kaya ?? Yakobus 5 : 1 - 6
Tindakan mengumpulkan harta yang disapa dalam nas ini tidaklah sama dengan bekerja mencari nafkah. Alkitab mengharuskan kita bekerja untuk mencari nafkah (2Tes 3:10 Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan, bnd Kej. 3:17-19) dan karenanya itu bukanlah dosa. Bahkan jikalau kita bekerja untuk tujuan tertentu seperti ingin membangun atau membeli rumah, dsb itu tentu tidak bisa disalahkan. Tindakan yang di kecam dalam nas ini adalah orang yang mengumpulkan harta atau uang demi harta itu sendiri, atau harta itu menjadi tujuan akhir dari semangat (nafsu) kerjanya dalam hidup ini.
Selama hidup ia yang selalu menimbun harta, ia yang selalu mengumpulkan lebih dari yang ia butuhkan untuk dipergunakan sendiri, menimbun cadangan makanan dalam jumlah yang luar biasa banyak sementara banyak yang menderita kelaparan, menyimpan ratusan jenis pakaian semantara banyak orang yang kekurangan pakaian, demikianlah Matius 6:19 menyatakan “janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi, di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar dan mencurinya.
Q. Curtius mengatakan bahwa ketika Aleksander Agung hendak menguasai Persepolis, kekayaan seluruh Asia terkumpul di sana yang terdiri dari bukan hanya berlimpah emas dan perak, tetapi juga pakaian-pakaian dengan bahan yang mahal, Horace menyatakan bahwa ketika Lucullus Roma ditanya apakah ia bisa meminjamkan 100 baju untuk theater, ia menjawab bahwa ia memiliki 5000 di rumahnya. Tentu saja kekayaan seperti ini sangat memungkinkan di makan ngengat.
Mereka-mereka yang mengumpulkan sejumlah besar jenis property yang menyenangkan hati mereka, mereka menyimpannya terus sampai barang-barang itu hancur/rusak, “lebih baik hancur dari pada dipakai oleh orang-orang yang sedang membutuhkan” (Luk. 6:24 “Tetapi celakalah kamu, hai kamu yang kaya, karena dalam kekayaanmu kamu telah memperoleh penghiburanmu”)
Mereka-mereka yang menumpuk harta dengan melakukan ketidakadilan dan penipuan, menyimpannya dari orang yang layak menerimanya (Yak. 5:4), harta itu akhirnya “terkorosi” oleh karat. Memang emas dan perak takkan terkena karat seperti halnya besi dan baja, tapi karena disimpan dalam jangka waktu yang lama apalagi di tempat yang lembab dan basah, maka akan ada warna gelap mirip karat. Karat atau perubahan warna ini hendak menyaksikan dan menyadarkan bahwa kekayaan atau harta itu tidak dipergunakan sebagaimana mestinya, juga untuk membayar pekerja-pekerja yang layak mendapatkan upahnya.
Emas dan Perak yang berkarat sama kondisinya dengan daging yang “dihinggapi” api, hukuman Allah akan datang atas keserakahan dan ketidakadilan manusia. Pada hari penghakiman kelak, harta yang sebenarnya akan dinyatakan, harta yang dipakai bukan untuk kesombongan, bukan untuk kemewahan, atau untuk dipergunakan di masa yang akan datang (Rom. 2:5 “tetapi oleh kekerasan hatimu yang tidak mau bertobat, engkau menimbun murka atas dirimu sendiri pada hari waktu mana murka dan hukuman Allah yang adil akan dinyatakan”).
I finally found the reason for living, It’s in giving every part of my heart to Him, And all that I do, every word that I say, I’ll be giving my all just for Him, for Him…
We are the reason that He gave His life, We are the reason that He suffered and died, To a world that was lost He gave all He could give, To show us the reason to live….
26 Juni 2010
Renungan
1 Petrus 3 : 13 – 17
“Berjalan dalam kegelapan sambil tetap melihat kepada Terang besar”
Tidak ada manusia yang tidak memiliki pergumulan dalam hidupnya. Terkhusus bagi orang beriman, setiap rancangan hidup akan selalu dilihat dalam terang Iman, di mana Allah pencipta kita yakini masih tetap dan akan tetap memelihara hidup ini dan juga semua ciptaanNya. Demikianlah alam semesta termasuk didalamnya setiap orang beriman akan selalu “bergantung” kepada Allah, karena Ia menopang segala sesuatu dengan kebijaksanaan dan kekuatanNya.
Kita hidup di dunia yang Allah cipta menjadi tempat kita, yang mana kejahatan dan kesengsaraan ada didalamnya karena dosa. Tabiat manusia yang tidak mampu untuk mengasihi Allah dan takut akan Allah mendapat tempat dalam karya PenyelamatanNya. Di dalam kesengsaraan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus, Allah telah memperlihatkan kuasaNya atas dosa dan kematian. Dengan rela hati Kristus merendahkan diriNya supaya menebus setiap orang (menebusku), manusia yang tersesat dan terhukum. Kristus menebus setiap orang (menebusku) dari segala dosa, kematian dan kuasa Iblis (Yoh 1:29, lihatlah Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia)
Melalui kebangkitan Kristus, nyatalah bahwa Kristus adalah Putra Allah, ajaranNya adalah kebenaran, karyanya adalah demi pendamaian dunia, dan semua orang yang percaya kepada Kristus akan bangkit kepada hidup kekal. Karena Dialah “Terang Besar” yang akan selalu hadir dalam hati dan pikiran setiap orang yang menyerahkan dirinya kepadaNya. Biarlah ketika sedang berjalan dalam kegelapan, mata kita tetap terarah kepada “Terang Besar” itu.
Allah menyertai kita (Mat. 1:23),
sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau beserta ku; gadaMu dan tongkatMu, itulah yang menghibur aku (Mzm. 23:4).
Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar dan telingaNya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat (1 Pet. 3:12). Melalui hal ini, baiklah dimengerti bahwa penyertaan Tuhan bukan berarti tidak ada pergumulan hidup, penyertaan Tuhan bukan berarti tidak ada lagi penderitaan, sebaliknya orang percaya juga terpanggil untuk menderita karena kebenaran. Kristus dianiaya bukan karena Dia berbuat dosa atau berbuat salah, Para Rasul dan juga orang-orang yang mati martir juga menderita dan dianiaya karena kebenaran (teguh mempertahankan iman mereka kepada Kristus).
Baiklah sebagai orang beriman, ketika kita merasa tidak ada lagi yang memberikan rasa aman, tidak ada lagi yang memberikan ketenangan, ketika dirasa jalan hidup ini akan berakhir, dunia ini menghimpit dan beban kita pun terasa berat, ingatlah :
Apabila kamu telah meninggikan Anak Manusia, barulah kamu tahu, bahwa Akulah Dia, dan bahwa Aku tidak berbuat apa-apa dari diriKu sendiri, tetapi Aku berbicara tentang hal-hal, sebagaimana diajarkan Bapa kepadaKu (Yoh. 8:28)
Kalau kamu dibangkitkan bersama Kristus, carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk di sebelah kanan Allah. Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi. Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah (Kol. 3:1-3)
Selamat menjalani hari-hari dalam satu minggu ke depan, Tuhan Yesus Memberkati…
“Berjalan dalam kegelapan sambil tetap melihat kepada Terang besar”
18 Juni 2010
Ketaatan Mendatangkan Berkat (Yohanes 14:1-3)
Sebelum bangsa Israel memasuki tanah Kanaan, sebagai tanah perjanjian, Allah memberikan pesan penting yang harus dilakukan bansa Israel sebagai wujud ketaatannya kepada Tuhan yaitu sungguh-sungguh mendengarkan perintah Allah, mengasihi Tuhan Allah dan beribadah kepadaNya dengan segenap hati dan segenap jiwa. Allah tidak menginginkan bangsanya untuk mendua hati dan terbujuk hatinya untuk beribadah kepada allah lain. kita harus menyadari bahwa Tuhan sangat menghendaki kita pengikut-pengikutNya untuk mengedepankan keinginan Allah dari pada keinginan kita.Ketaatan kepada Tuhan akan membawa kita pada suatu harapan yang bukan bergantung kepada dunia ini namun berharap akan upah di surga. Yesus berjanji akan menyiapkan dan memberikan kita tempat yang layak di surga. Mau ?
13 Juni 2010
renungan
BERTOBATLAH, SEBAB HARI TUHAN SUDAH DEKAT
(Yoel 1 : 8 - 20)
Dalam banyak forum dan diskusi, selalu mencuat kekhawatiran tentang kelangsungan hidup manusia di bumi, menyangkut kelestarian alam raya, hubungan antar manusia dan hubungan manusia dengan Tuhannya. Memang sudah sepatutnya kita kuatir tentang kelestarian hidup di muka bumi, menyangkut kelestarian alam, karena setiap hari kita mendengar berita tentang bencana alam di sekitar kita (Banjir, tanah longsor dan gempa di mana-mana), belum lagi issu tentang pemanasan global yang sering diteriakkan oleh para pemimpin bangsa-bangsa di dunia. Demikian halnya dengan perdamaian dunia yang terancam oleh berbagai persoalan yang muncul karena masalah politik, ekonomi dan sosial. Sentimen agama menjadi ancaman yang dapat memicu konflik kemanusiaan. Berkenaan dengan itu, agama dan peribadahan di dalamnya sering tidak memerdekakan orang untuk mencintai sesama, tanpa membedakan ras, suku dan agamanya. Agama malah membangun fanatisme yang sempit daripada mendatangkan damai sejahtera tersebut. Kejahatan manusia semakin bertambah dan menganggap bahwa hari penghakiman Tuhan masih lama, atau sebagian orang merasa bahwa tentang hari penghakiman hanyalah dongeng para imam untuk menakut-nakuti manusia berbuat dosa. Kalau demikian bagaimanakah sikap kita ?
17 April 2010
Renungan
Terima kasih adalah kata-kata yang sederhana, tetapi betapa kerap orang sulit mengucapkannya. Mari kita hitung, selama seminggu ini berapa banyak kita menerima kebaikan orang lain? Tidak hanya untuk hal-hal besar, tetapi juga untuk hal-hal sederhana. Misalnya, istri yang menyeduhkan kopi, suami yang pulang dari kantor membawakan makanan kesukaan, anak yang telah menolong mengambilkan sesuatu. Atau juga orang-orang yang dengan pekerjaannya telah membantu kita; tukang sampah yang setiap hari mengangkut sampah dari rumah kita, sopir taksi yang mengantarkan kita ke tempat tujuan.
Bandingkan dengan berapa kali dalam minggu yang sama kita mengucapkan "terima kasih". Jangan-jangan cuma "sembilan berbanding satu". Artinya, dari sepuluh kali kita menerima kebaikan orang lain, hanya satu kali kita menyatakan rasa terima kasih. Seperti yang ditunjukkan dalam bacaan kita; dari sepuluh orang kusta yang menerima anugerah kesembuhan dari Tuhan Yesus, hanya satu yang kembali untuk berterima kasih atau mengucap syukur. Secara jelas Lukas menyebut orang yang tahu berterima kasih itu adalah orang Samaria (ayat 16).
Waktu itu orang Samaria dipandang masyarakat sebagai kalangan rendah, kaum sepele, kelompok yang tidak berbudaya, bukan bangsa pilihan. Dengan sengaja menyebut orang Samaria yang kembali untuk menyatakan rasa terima kasihnya kepada Tuhan Yesus, Lukas seolah-olah hendak mengatakan bahwa justru orang yang dianggap rendah oleh kebanyakan orang itulah yang tahu berterima kasih.
Seandainya orang bisa memposisikan diri sebagai orang Samaria, yang merasa dia tidak pantas dibantu, sebab keselamatan bukan untuk mereka sebagai warga kelas dua di daerah Yahudi, sebagai orang kusta yang harus jauh dari masyarakat, maka orang akan mudah bersyukur. Betapa dia yang tidak pantas ini diberi anugerah yang tidak terduga dari seorang yang sangat hebat dan terhormat. Kesadaran ini membuatnya datang kembali untuk berterimakasih dan menyembah Yesus. Sementara 9 orang lain adalah orang yang taat pada Yesus. Mereka disuruh pergi menghadap para imam dan mereka melaksanakannya. Mungkin kesembuhan dari kusta dilihat juga sebagai usaha mereka yang berjalan menghadap para imam. Maka mereka tidak kembali pada Yesus sebab keberhasilan itu merupakan usaha mereka.
Banyak orang beriman saat ini yang taat pada Yesus. Banyak yang taat untuk datang kegereja pada hari Minggu, ada diantaranya yang melakukan doa-doa khusus, membayar perpuluhan seperti yang diperintahkan dalam Perjanjian Lama. Jelasnya banyak yang mentaati semua itu. Namun apakah peribadahan Minggu itu sebagai ungkapan terimakasih atau wujud syukur atas perlindungan dan karya Allah selama seminggu? Apakah perpuluhan merupakan ungkapan terimakasih atau perwujudan rasa syukur atas berkah selama sebulan? Ketaatan berbeda dengan ungkapan terimakasih atau rasa syukur. Namun banyak orang sudah puas dengan ketaatan itu.
Orang Samaria yang bukan hanya taat tapi juga melihat sumbernya. Dia melihat Yesus sebagai asal dari perintah itu. Kesembuhan bukan hanya karena ketaatannya untuk pergi kepada para imam (yang belum tentu diterima juga sebab dia orang Samaria) tapi juga peran Yesus yang memberikan perintah dan menganugerahkan kesembuhan. Bagaimana denganmu??
Read More......
10 April 2010
Renungan
APAKAH KAMU MENGENAL DAN MENCINTAI TUHAN YESUS ?
( 1 Yohanes 2 : 1 - 6 )
Kisah romantika Romeo dan Juliet adalah legenda yang dikenal oleh beberapa generasi manusia sampai sekarang. Kisah roman ini menjadi legenda, bukanlah karena keindahan puisinya, bukan pula karena eloknya paras dan rupa Romy dan Yuli, bukan pula karena akhir cerita yang indah dan bahagia. Kisah ini memiliki kekuatan dan menjadi legenda adalah karena kekuatan cinta dua anak manusia yang dibuktikan dengan perbuatan. Kisah ini tidak berakhir suka cita dan bahagia, tetapi berakhir tragis, dimana kedua tokohnya harus mati muda, tetapi mereka berhasil membuktikan janji setia yang terucap dari bibir mereka. Disinilah keindahan dan kekuatan cinta mereka tersebut, ketika kata-kata diwujudkan di dalam tindakan yang nyata. Demikianlah sesungguhnya cinta (kasih), cinta itu tidak berarti apa-apa kalau hanya seuntai kakata-kata puitis yang tidak terbukti. Cinta akan kehilangan makna, dan hanya seperti iklan kosong yang menipu dan pada akhirnya menyebalkan. Karena itu perlu juga kita simak, penggalan syair lagu di bawah ini:
“Kalau kau bebar-benar sayang padaku,Kalau kau bebar-benar cinta
Tak perlu kau katakan semua itu, cukup tingkah laku
Namun apalah artinya cinta, kalau hanya dibibir saja,
Cinta itu bukanlah main-mainan, tapi pengorbanan !”
Dari syair yang pendek ini, kita diingatkan sekali lagi, bahwa cinta itu harus nyata di dalam tindakan, yaitu pengorbanan.
Pertanyaan untuk kita sekarang,adalah :”Apakah kamu mengenal dan mencintai Tuhan Yesus?”. Pertanyaan ini mungkin membuat kita geli dan berkata dalam hati: “pertanyaan apa ini, dari dulu saya sudah kenal Yesus kok”. Mungkin pertanyaan ini membuat kita marah dan berkata dalam hati:’Ini adalah penghinaan”. Dan mungkin banyak jawaban yang lain. Mungkin kita sudah mengetahui silsilah Tuhan Yesus, mungkin kita sudah menghafal banyak ayat-ayat Alkitab dan setiap hari Minggu kita mengucapkan Pengakuan Iman Rasuli, tetapi cukupkah itu sebagai bukti ? Firman Tuhan hari ini berkata :”Dan inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah (Yesus), yaitu jikalau kita menuruti perintahNya”(Ay.3). Mengacu kepada Firman ini, mengenal Yesus tidak cukup hanya menghafal ayat suciNya tetapi melakukan FirmanNya. Dalam kesempatan yang lain Yesus berfirman:”Bukan setiap orang yang berseru kepadaKu: Tuhan, Tuhan ! Akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak BapaKu yang di Sorga”(Mat.7:21). Seorang bijak pernah berkata :”Satu perbuatan yang baik, lebih berguna dari pada seribu kata-kata bijak”. Sekali lagi pertanyaannya, sudahkah kita mengenal Yesus ?
Selanjutnya, apabila kita mengatakan mencintai Yesus, maka hidup kita harus fokus dan hanya tergantung kepadanya. Kita harus mengatakan: “Saya tidak dapat hidup tanpa Yesus”. Sebagaimana seorang bayi yang menggantungkan hidupnya kepada susu yang murni (Quasimodogeniti), demikianlah seharusnya hidup kita, hanya bergantung kepada kasih dan pemeliharaan Yesus Kristus, dan wajib hidup sama seperti Dia, seperti FirmanNya :”Barang siapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus hidup”(Ay.6). Karena itu marilah kita berkata :”Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku”(Gal.2:20). Amin.
Selamat Hari Minggu, Tuhan Yesus Memberkati
06 Februari 2010
renungan
ANAK MANUSIA DATANG UNTUK MELAYANI
( MARKUS 10 : 35 - 45 )
Penyebab kejatuhan manusia yang pertama (Adam & Hawa) ke dalam dosa adalah godaan untuk meninggikan diri melebihi apa yang sudah dianugerahkan Tuhan kepadanya, bahkan ingin setara dengan Tuhan yang menciptakannya. Karena godaan tersebut, dengan sadar manusia itu melanggar perintah Tuhan. Akibatnya, bukan kemuliaan dan kesetaraan dengan Tuhan yang diperolehnya, tetapi adalah kejatuhan ke dalam dosa dan hukuman akibat dosanya tersebut. Kecenderungan untuk lebih dari yang lain terus berlanjut, dimulai dari Adam yang merendahkan isterinya (Hawa) dengan melempar kesalahan kepadanya. Kemudian, keinginan untuk lebih dari yang lain, telah melahirkan sifat iri dan kekerasan yang dilanjutkan dengan pembunuhan yang pertama, yaitu Kain membunuh adiknya Habel.
Selanjutnya kisah kehidupan manusia, adalah cerita penaklukan dan pembantaian. Kehormatan dan wibawa diukur dari seberapa besar kuasa yang dimiliki. Kebesaran kuasa diukur dari seberapa banyak orang yang tunduk, takluk dan menurut kepadanya. Sehingga untuk mendapat kuasa yang demikian, seseorang cenderung membesarkan diri dan mengerdilkan orang lain. Akibatnya dunia tempat kita hidup menjadi ajang kompetisi, yang memaksa kita berlari dan berjuang untuk mendapat predikat dan pengakuan. Dalam kompetisi yang demikian hanya pemenang yang mendapat aplaus dan penghormatan, sedangkan yang kalah mendapat cemoohan. Malangnya kompetisi kehidupan tidak selalu jujur dan mengikuti aturan, dan kecenderungannya adalah yang kuatlah yang menang (Survival of the fittes). Dalam kompetisi kehidupan yang demikian seseorang sering bersikap menjadi serigala terhadap yang lain (Homo-homo ni lupus), sehingga tatanan harmoni kehidupan yang diciptakan Tuhan mengalami kekacauan dan bila diteruskan maka damai sejahtera (syalom) hanyalah impian atau paling tidak menjadi slogan yang kosong.
Tetapi Tuhan tidak membiarkan hal tersebut berkelanjutan, Dia mau mengembalikan kehidupan ke atas dasar yang sebenarnya, yaitu ciptaan yang satu harus menopang dan memenangkan kehidupan ciptaan yang lain. Seseorang harus menjadi mahluk sosial untuk memanusiakan manusia yang lain (homo-homo ni safiens). Untuk mewujudkan itu, Allah memulainya dengan perbuatan turun ke bumi dan menjadi manusia di dalam diri Yesus Kristus. Dalam tindakan yang demikian Allah merendahkan diri bahkan mengambil rupa seorang hamba. Dia datang melayani bukan menuntut dilayani. Dia memberikan hidup bahkan nyawanya bukan menuntut pemberian dari manusia. Demikianlah kiranya kita meneladani sifat dan pribadi Yesus, dengan merendahkan diri dan tidak merendahkan yang lain. Ingatlah Firmannya yang berkata : “ Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (Mrk.10:43-45). Layanilah seorang akan yang lain dan rendahkanlah dirimu seorang akan yang lain, maka damai sejahtera akan nyata dalam hidupmu. Amin.
Selamat Hari Minggu,
16 Januari 2010
Renungan
(YOHANES 17 : 20 - 23)
Manusia adalah mahluk sosial yang harus hidup berdampingan, saling mengakui dan saling menolong satu dengan yang lain. Dalam kehidupannya, kemudian manusia itu membentuk kelompok. Pembentukan kelompok ini, biasanya didasarkan pada unsur : 1. Garis keturunan (hubungan darah), 2. suku/ras, 3.kepentingan yang sama dan yang lain. Tetapi tanpa disadari pembentukan kelompok tersebut, telah membangun tembok pemisah antara kelompok manusia yang satu dengan yang lain dan bahkan bisa menimbulkan konflik di antara mereka. Harus diakui, bahwa ada usaha manusia itu sendiri untuk mempersatukan seluruh kelompok manusia tersebut, usaha ini dilakukan dengan penaklukan (ingat cerita Jenghis Khan, Alexander Agung, dll). Tetapi usaha itu tidak pernah dapat mempersatukan semuanya.
Firman Tuhan hari ini, berseru :”Agar mereka semuanya menjadi satu”, pernyataan ini adalah doa Tuhan Yesus, agar semua muridNya bersatu dan demikian juga yang belum menjadi murid menjadi satu di dalam Kristus. Kesatuan yang dimaksud adalah kesatuan yang dibangun di atas dasar Kristus dan di dalam Kristus. Sebab Firman Tuhan berkata :”Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar yang lain daripada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus” (1 Korintus 3:11). Bila Kristus yang menjadi dasar, maka perbedaan suku, budaya dan bangsa tidak lagi menjadi penghalang untuk bersatu. Dan bila diletakkan di atas dasar tersebut tidak juga berarti menyeragamkan suku bangsa yang berbeda. Sama seperti tubuh yang dibangun dari banyak anggota tubuh yang berbeda, demikianlah persekutuan di dalam Kristus dapat dibangun dari kepelbagian suku bangsa dengan satu syarat mutlak yaitu Kristus yang menjadi dasarnya.
Kesatuan orang percaya di dalam Kristus menjadi modal utama dari setiap orang percaya untuk bersaksi kepada sekitarnya. Karena kesatuan dengan Kristus berarti kita memiliki hubungan yang mesra atau dengan kata yang lain dikatakan kita memiliki hubungan yang intim dengan Tuhan kita. Hubungan ini tentu lahir dari pengenalan yang baik akan Dia. Dengan pengenalan dan hubungan yang demikian, maka kita akan mempunyai kuasa untuk bersaksi kepada sesama. Lebih daripada itu, kesatuan kita menjadi kesaksian juga kepada yang yang lain. Demikian halnya dengan jemaat mula-mula (Kis.4:32-37), karena cara hidup mereka yang penuh damai dan rukun di dalam kesatuannya, maka tiap-tiap hari semakin banyak orang yang mengikuti Kristus dan masuk ke dalam persekutuan tersebut. Bagaimana dengan persekutuan kita di HKBP Immanuel Kelapa Gading? Apakah kita membawa orang ke dalam persekutuan kita, atau justru penyebab orang lain keluar dari persekutuan kita ? Renungkanlah !
Amin.
TUHAN YESUS MEMBERKATI
Read More......
08 Desember 2009
renungan
(Yohanes 13 : 12 - 17)
Pada umumnya, manusia cenderung untuk meninggikan dirinya sendiri dan menganggap orang lain lebih rendah darinya. Manusia juga cenderung merasa lebih benar dan lebih pintar dari yang lain, sehingga sikapnya sering membenarkan diri dan mempersalahkan yang lain. Sikap yang demikian sudah ada dari awal sejarah kehidupan manusia. Sikap ini dimulai, ketika Adam dan Hawa memakan buah terlarang. Keinginan mereka untuk sama dengan Allah, telah membuat manusia itu jatuh ke dalam kutuk dosa yang mengakibatkan rusaknya hubungan mereka (manusia) dengan Penciptanya. Akibatnya, kepribadian luhur manusia itupun mengalami perubahan yang radikal. Hal itu dapat kita lihat dari perkataan Adam yang sangat manis ketika Pertama sekali menerima Hawa, sebelum mereka jatuh ke dalam dosa, demimikanlah perkataan Adam :”...inilah dia tulang dari tulangku dan daging dari dagingku..”(Kej.2:23). Tetapi sesudah mereka jatuh ke dalam dosa perkataan Adam cenderung melempar kesalan kepada Hawa dan mencoba membenarkan diri, demikian perkataannya :..Perempuan yang Kau tempatkan disisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka ku makan”.(Kej.3:12). Demikianlah sikap manusia, yang pada awalnya begitu luhur dan penuh dengan hal-hal yang positif, yaitu saling menerima, saling memuji dan saling menghargai, tetapi ketika jatuh ke dalam dosa, kemudian berbalik : saling menolak (membunuh), saling mencaci dan mempersalahkan dan saling merendahkan. Kemudian kehidupan dilihat sebagai kompetisi, bukan sebagai satu persekutuan untuk saling menopang dan saling membantu satu dengan yang lain.
Teladan dunia yang selalu cenderung untuk meninggikan diri tersebut, kemudian diubah oleh Yesus Kristus melalui teladanNya, ketika Dia mau turun ke dunia dari TahtaNya yang Agung dan menjadi sama dengan manusia untuk menyelamatkan manusia yang berdosa (baca Pilipi 2:1-11). Keteladanan itu juga ditunjukkannya kepada murid-muridNya dan kepada kita di dalam perikop bacaan hari ini. Dimana Dia yang adalah Guru mau membasuh kaki para murid. Hal ini merupakan kejanggalan menurut kebiasaan yang berlaku. Dimana seorang yang lebih tinggi derajatnya mau melayani orang-orang yang lebih rendah. Tetapi, demikianlah teladan yang diberikan oleh Tuhan Kita. FirmanNya berkata :Jika seseorang ingin menjadi yang terdahulu, hendaklah ia menjadi yang terakhir dari semuanya dan pelayan dari semuanya”(Mrk.9:35).
Read More......
06 September 2009
Renungan
29 Agustus 2009
Renungan
HIDUP RUKUN DALAM PERJANJIAN ALLAH
( KEJADIAN 17 : 15 - 27 )
Di dalam kitab Kejadian,kita melihat ada dua hal yang penting, yaitu : 1.Allah menyatakan diri dan kuasaNya di dalam ciptaanNya. 2. Allah menyatakan kehadiranNya dalam sejarah kehidupan bapa-bapa leluhur (Abraham, Ishak & Yakub). Di dalam perjumpaan Allah dengan para bapa leluhur tersebut, Allah mengikat perjanjianNya dengan mereka, yaitu Allah akan memberkati mereka dan umatnya (bapa leluhur) akan setia kepada Allah. Perjanjian itu ditandai dengan tanda di dalam daging (sunat),sebagaimana FirmanNya : ”Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki di antara kamu harus di sunat”.(Kej.17:10). SelanjutNya Tuhan berfirman: ”Orang yang lahir di rumahmu dan orang yang engkau beli dengan uang harus di sunat; maka dalam dagingmulah perjanjianKu itu menjadi perjanjian yang kekal”. (Kej.17:13). Di ayat 14 dikatakan bahwa orang yang tidak disunat harus disingkirkan karena dianggap telah mengingkari perjanjian dengan Allah. Abraham dan seisi rumahnya menuruti perjanjian tersebut, dan mereka dibaptis pada hari itu juga (ay.26-27). Abraham berumur 99 tahun ketika di sunat dan anaknya Ismael berumur 13 tahun (ay.24-25).
Dalam Pertemuan Allah dengan Abraham, Allah kembali mengingatkan akan janji dan berkatnya kepada Abraham dan keturunanNya, yang akan diberikan melalui Sara (Sarai) isterinya yang sudah berumur 90 tahun. Dalam hatinya Abraham berpikir mungkinkah sarah yang sudah berumur 90 tahun melahirkan ? (ay.17). Tetapi justru disinilah Kuasa Tuhan dinyatakan, karena yang tidak mungkin menurut manusia itulah yang diperbuat oleh Allah. Allah mengatakan bahwa Sara akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan diberi nama Ishak yang dengannya Allah akan mengikat perjanjian yang kekal dengan keturunannya.. Selanjutnya Abraham memohon kepada Tuhan agar anakNya Ismael juga diperkenankan hidup di hadapan Allah (ay.18), dan Allah merespon permintaan tersebut dengan janji bahwa Ismail dan keturunannya juga akan diberkati dan dibuat menjadi bangsa yang besar (ay.20).
Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus, janji Tuhan telah digenapi, dan kita semua adalah anak-anak perjanjian ketika kita juga telah disunat (sunat rohani) di dalam Baptisan Kudus, sebagaimana FirmanNya :”Dalam Dia kamu telah disunat, bukan dengan sunat yang dilakukan oleh manusia, tetapi dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa, karena dengan Dia kamu dikuburkan dalam baptisan, dan di dalam Dia kamu turut dibangkitkan juga oleh kepercayaanmu kepada kerja kuasa Allah, yang telah membangkitkan Dia dari orang mati”.(Kol.2:11-12). Di dalam panggilan dan pemilihannya, Allah mengutus kita ke tengah dunia (plural), untuk hidup berdampingan dengan segala mahluk dan dengan manusia yang lain yang berbeda budaya, ras dan kepercayaan dengan kita. Bila Allah telah berkenan memberkati Ismael dan membiarkannya hidup di hadapannya, maka hendaklah kita juga dapat menjaga kerukunan dengan orang yang berbeda dengan kita, tetapi tetap di dalam kesetiaan akan perjanjian kita dengan Tuhan kita. Janganlah kita menghakimi, tetapi biarlah Allah yang akan menghakimi semuanya sesuai dengan janji dan kesetiaanNya. Amin.
Read More......24 Agustus 2009
Renungan
Orang Yahudi memiliki keterampilan yang baik untuk mengajarkan Taurat yaitu dengan cara Hurufiah (melakukan semua yang tertulis), penafsiran dan kiasan. Rasul Paulus yang adalah keturunan Yahudi asli menerapkan metode yang sama dalam menjelaskan keselamatan dari Yesus Kristus. Pada teks Galatia 4 : 22 – 28 ini, Rasul Paulus memaparkan suratnya dengan gaya kiasan (ay. 24). Oleh karena ini adalah kiasan maka tidak ada maksud Paulus untuk mempertentangkan antara Sara dengan Hagar namun membandingkan mereka. Konteks Pada saat ini, di Kota Galatia telah banyak umat Yahudi dan non Yahudi menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Pada awal mulanya mereka hidup rukun dan saling membangun antara satu dengan yang lain. Namun ketika pengaruh keyahudian masuk di kota tersebut maka mereka terpecah-pecah akibat ajaran tentang sunat, puasa dan Taurat (bacalah Gal. 1-4). Karena rusuh kekristenan saat itu maka Paulus mengangkat gambaran Hagar (hamba-menurut dagung) dan Sara (merdeka-menurut roh). Jadi mereka di posisi keturunan Hagar atau Sara, bila mereka tidak hidup rukun maka mereka adalah keturunan dari Hagar (ay.29) Isi Dalam nats ini, Rasul Paulus berbicara tentang bagaimana cara hidup dan perilaku umut Allah yang benar. Yang dimaksud adalah hidup rukun, sehati, sepikir dan merdeka. Hubungan Abraham dengan Sara isterinya adalah berdasarkan perjanjian Allah, karena itu anak yang dilahirkan yaitu Ishak adalah anak perjanjian atau anugerah sedangkan anak yang dilahirkan Hagar yaitu Ismail adalah anak kedagingan. Dalam konteks ini, jemaat seharusnya menyadari status mereka sebagai keturunan berdasarkan anugerah itu. Menurut Paulus, anugerah itu telah dipenuhi dalam diri Yesus Kristus dengan kata lain mereka telah dimerdekakan dari dosa dengan pengorbanan Kristus. Mereka telah peroleh ahli waris dan janji kasih karunianya. Namun ternya mereka (jemaat Galilea) berbalik dari Anugerah Yesus Kristus yang menanggung dosa. Hal ini digambarkan beralihnya garis perjanjian Abraham dan Sara kepada garis perhambaan (menurut daging) Abraham dan Hagar. Dengan kata lain mereka beralih dari status sebagai orang merdeka dan memberi diri dalam perbudakan lagi, mereka meninggalkan Kristus dan memikul kuk sendiri atau hukuman hukum Taurat. 1. Hidup dalam Kristus melahirkan kedamaian dan kerukunan 2. Perbedaan suku, agama, keturunan, golongan dan warna kulit tidak menjadi hambatan dalam mewujudkan cita-cita kerukunan hidup. 3. Sebagai orang beriman, kita telah dimerdekakan dari dosa oleh pengorbanan Kristus. Untuk itu jangan berbuat dosa lagi dan jangan menjadi hamba dosa agar tidak kehilangan hak waris perjanjian Allah.
