Kritik, Saran, Kesaksian

------------------- Kirim ke: immanuel_hkbp@yahoo.com ------------------- Kirim ke: immanuel_hkbp@yahoo.com ------------------- Kirim ke: immanuel_hkbp@yahoo.com ------------------- Kirim ke: immanuel_hkbp@yahoo.com ------------------- Kirim ke: immanuel_hkbp@yahoo.com -------------------
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tulisan. Tampilkan semua postingan

31 Maret 2010

KASIH ALLAH

Kasih Allah di dalam Yesus

Cinta sejati? Pernahkah terbayang, cinta sejati itu seperti apa sih? Cobalah bayangkan Anda menerima cinta sejati itu… Apakah yang akan Anda lakukan? Tentunya Anda akan berusaha untuk membalas cinta itu bukan? Yah, yang saat ini akan saya bahas adalah mengenai cinta… Bukan cinta biasa, tapi cinta yang sangat luar biasa, kasih terbesar telah saya terima, yang telah didemonstrasikan 2000 tahun silam…

Hari ini adalah hari Jumat Agung, hari di mana umat Kristen memperingati kematian Yesus Kristus 2000 tahun silam. Sebuah kematian yang didapatkan dengan cara yang sangat hina dan tidak pantas, penyaliban! Hukuman salib adalah hukuman yang sangat menyakitkan. Kebanyakan hukuman mati membuat terhukum secepat mungkin mati (seperti hukuman tembak, kursi listrik, dll.). Tapi, hukuman salib ini tidaklah demikian. Terhukum akan merasakan penderitaan kesakitan yang sangat menyakitkan sebelum dia akhirnya mati. Bayangkan, dua paku pada tangan kiri dan kanan, serta sebuah paku pada kaki harus menyangga berat tubuh terhukum. Tak terbayangkan…

Yang lebih menyakitkan lagi, Yesus tidak hanya disalibkan. Dia juga dicemooh dan disesah sebelum penyaliban itu. Dan, dia harus memikul salib hingga ke bukit Golgota tempat Dia disalibkan. Penelitian “manusia kain kafan” menyebutkan terdapat 726 bekas luka cambuk pada tubuh Yesus. Luka yang disebabkan oleh cambuk berduri, yang sekali cambukannya dapat mengangkat daging orang yang dicambuk. Saya membayangkan, kalau hanya tertusuk jarum saja sudah sakit, apalagi dicambuk 726 kali dan dipaku? Tak terbayangkan…

Lalu, apa yang membuat Yesus harus disalibkan? Apakah karena dosa-dosa-Nya? Ternyata tidak demikian. Inilah cinta sejati yang diberikan Yesus pada kita. Marilah kita lihat, mengapa Yesus harus mengalami penderitaan ini. Penderitaan ini telah dinubuatkan jauh sebelum Dia disalibkan oleh Nabi Yesaya.

Yesaya 53

1Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar, dan kepada siapakah tangan kekuasaan TUHAN dinyatakan? 2Sebagai taruk ia tumbuh di hadapan TUHAN dan sebagai tunas dari tanah kering. Ia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia, dan rupa pun tidak, sehingga kita menginginkannya.



3Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesakitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan.

4Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah.

5Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.

6Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi TUHAN telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian.

7Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya.


8Sesudah penahanan dan penghukuman ia terambil, dan tentang nasibnya siapakah yang memikirkannya? Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umat-Ku ia kena tulah.

9Orang menempatkan kuburnya di antara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada di antara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya.


10Tetapi TUHAN berkehendak meremukkan dia dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya, umurnya akan lanjut, dan kehendak TUHAN akan terlaksana olehnya.

11Sesudah kesusahan jiwanya ia akan melihat terang dan menjadi puas; dan hamba-Ku itu, sebagai orang yang benar, akan membenarkan banyak orang oleh hikmatnya, dan kejahatan mereka dia pikul.



12Sebab itu Aku akan membagikan kepadanya orang-orang besar sebagai rampasan, dan ia akan memperoleh orang-orang kuat sebagai jarahan, yaitu sebagai ganti karena ia telah menyerahkan nyawanya ke dalam maut dan karena ia terhitung di antara pemberontak-pemberontak, sekalipun ia menanggung dosa banyak orang dan berdoa untuk pemberontak-pemberontak.



Ya Tuhan, terima kasih untuk semua pengorbanan-Mu. Terima kasih untuk penebusan yang Kau berikan. Terima kasih untuk cinta sejati yang telah Kau tunjukkan dan berikan. Ampunilah semua dosa-dosaku. Ajar aku untuk dapat terus taat dan setia kepada-Mu.

Yohanes 15:13

Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.

Sumber gambar: film Passion of The Christ

Read More......

PASKAH


Hari Raya Paskah pada perjanjian lama merupakan hari peringatan pembebasan bangsa Israel dari perbudakan Mesir. Saat itu anak-anak sulung bangsa Mesir dibunuh, namun pintu-pintu rumah orang Ibrani dilewati (dilewati atau melewati dalam bahasa Ibrani adalah “ Pésah “). Peristiwa itu diperingati dengan makan “korban Paskah”. Dalam perjanjian baru “korban Paskah” adalah Yesus Kristus sendiri yang disebut juga dengan “Anak Domba yang disembelih”. Dalam perkembangannya Hari Raya Paskah mendapat nuansa baru yaitu perayaan kebangkitan Yesus Kristus.

Satu tahun sekali orang Kristen berkumpul di gereja atau di tempat-tempat kebaktian untuk mengenangkan hari kematian dan merayakan kebangkitan Yesus Kristus yang dikenal sebagai Hari Raya Paskah. Saat-saat seperti inilah merupakan kesempatan untuk merenungkan kembali mengapa Yesus harus mati di kayu salib, apa pesan paskah, apakah artinya bagi kita. Pada setiap kebaktian akan terdengar paduan suara mendendangkan lagu-lagu pujian yang berkaitan dengan paskah antara lain “Kristus Bangkit! Soraklah” atau “Di makam yang gelap”. Ada gereja atau sekolah minggu yang mementaskan drama/fragmen khusus untuk mengenang peristiwa kematian Kristus dan kebangkitanNya.

Yang menjadi pertanyaan adalah apakah arti paskah yang sebenarnya bagi kita umat kristen ? Apakah cukup dengan datang ke tempat kebaktian mendengarkan khotbah, bernyanyi atau mementaskan sebuah drama? Kalau hanya itu saja, kita telah tertipu oleh sebuah tradisi kekristenan dan bisa jadi kita lupa akan arti sesungguhnya pengorbanan darah Yesus Kristus yang suci itu. Kekristenan kita akan lapuk dan iman kita akan hilang kalau kita berlaku demikian.

Arti paskah dapat dilihat setidaknya ada 3 (tiga) hal penting bagi kita / manusia yaitu :

I. “Kematian Kristus itu telah membenarkan dan menyelamatkan kita”

Kita telah dibenarkan karena darahNya. Arti kata “dibenarkan” dalam alkitab adalah : dibebaskan dari tuduhan, dinyatakan tidak bersalah menurut pandangan Allah sendiri.

Kita telah dilepaskan / diselamatkan dari hukuman yang kekal. Kita telah bebas seperti halnya Barabas, yang sudah rusak akhlaknya, telah bebas dari hukuman mati. Penjahat itu telah menjadi contoh yang khas bagi manusia, memberontak, tak ber-tuhan, tak berbelas kasihan. Tetapi, karena kematian Kristus ia telah diselamatkan.

II. “Kematian Kristus itu telah menyucikan hati nurani dan batin kita”

Mari kita renungkan apa yang dikatakan dalam alkitab : “Darah Kristus, yang oleh Roh yang kekal telah mempersembahkan diriNya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup”. (Ibrani 9:14)

Setiap orang mempunyai hati nurani. Hati nurani ini selalu mengadili segala pikiran, perkataan dan tingkah laku seseorang. Suara hati itu bekerja perlahan-lahan. Kadang-kadang ia mengatakan kesalahan seseorang, tetapi sebaliknya, membenarkan juga akan perbuatan seseorang.

Hati nurani itu mungkin peka, kasar atau tidak sempurna pertumbuhannya. Hal ini tergantung bagaimana kita menerapkannya.

Batin manusia itu telah dikotori oleh dosa. Manusia telah lumpuh, tak berdaya, karena hati nuraninya telah dinodai oleh dosa. Untunglah, darah Kristus telah menyucikan kita dari amal dan perbuatan yang mati, supaya kita dapat melayani Allah yang hidup. Si tunasusila telah berubah menjadi ibu yang baik dan sederhana, si anak nakal telah menjadi pelayan Kristus yang baik. Inilah arti Paskah yang sebenarnya yaitu mengubah manusia yang kotor karena dosa menjadi manusia suci dihadapan Tuhan.

III. “Kematian Kristus telah menebus kita”

Tidak ada arti yang lebih indah dalam peringatan Paskah, kecuali : kita ditebus oleh darah Kristus. Rasus Petrus mengatakan bahwa kita ditebus “...bukan dengan barang yang fana, ... melainkan dengan darah yang mahal yaitu darah Kristus” (1 Pet 1 : 18 – 19)

Bukan hanya Adam tetapi semua manusia telah terkena perangkap Iblis. Manusia harus diambil dari perangkap itu dengan ditebus atau dibeli kembali. Hanya dengan jalan inilah manusia dapat berkomunikasi lagi dengan Allah.

Akhirnya di atas kayu salib di Golgota itu telah terjadi suatu penebusan atau pembayaran yang tidak ternilai harganya, yang jauh lebih mahal dari nilai kita yang sesungguhnya. Hal ini dilakukan oleh Tuhan kita Yesus Kristus karena kasihNya kepada umat kesayanganNya. Kita ditebus, dibayar kembali, dosa kita dihapuskan, kedudukan kita dipulihkan, bukan dengan barang-barang fana seperti emas, perak yang dapat sirna, tetapi dengan darah Kristus yang kekal dan mulia.

Inilah arti Paskah bagi kita, marilah kita menghargai apa yang sudah dilakukan Yesus Kristus di Golgota, dengan percaya padaNya, mengasihiNya, melakukan apa yang diperintahkanNya dengan segenap hati, jiwa dan segenap akal budi kita.

Read More......

JUMAT AGUNG

KEMATIAN KRISTUS SEBAGAI KARYA KESELAMATAN ALLAH YANG SEMPURNA
Yes. 52:13 - 53:12; Mzm. 22; Ibr. 10:16 - 25; Yoh. 18:1 - 19:42


Pengantar
Peristiwa kematian sebenarnya merupakan peristiwa yang sangat alamiah sebab dialami oleh setiap mahluk hidup termasuk umat manusia. Dasar atau hakikat dari seluruh peristiwa kematian yang dialami oleh manusia adalah karena kita mahluk yang fana dan terbatas. Sehingga sehebat apapun prestasi yang berhasil dicapai oleh manusia, dia akan berhadapan dengan batas akhir yang bernama kematian. Jika demikian, mengapa dalam iman Kristen, kematian Kristus dihayati sebagai karya keselamatan Allah yang sempurna? Bukankah para tokoh sejarah juga mengalami kematian, baik karena kematian di usia lanjut atau kematian yang penuh kepahlawanan, kematian sebagai seorang martir maupun kematian yang begitu tragis. Misalnya penakluk dunia Aleksander Agung dari Makedonia (356 - 324 sM) meninggal dalam usia 33 tahun karena sakit demam. Aleksander adalah seorang penakluk banyak orang dan bangsa, tetapi dia ditaklukkan oleh demam yang kemungkinan adalah nyamuk malaria. Contoh lain adalah Gaius Julius Caesar (13 Juli 100 – 15 Maret 44 sM) yang mampu memperluas dunia Romawi hingga Oceanus Atlanticus. Dia juga terlibat dalam pertarungan dan berhasil memenangkan sebuah perang saudara yang menjadikannya penguasa terhebat dunia Romawi, dan memulai reformasi besar-besaran terhadap masyarakat dan pemerintah Romawi. Tetapi akhirnya dia meninggal dunia pada 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus dan beberapa senator Romawi. Tetapi kematian mereka tidak pernah dihayati sebagai wujud karya keselamatan Allah. Dunia hanya mengenang mereka sebagai pahlawan, penakluk dunia yang jenius dan tokoh sejarah di antara para tokoh sejarah lainnya.

Dari sudut pandang manusiawi, kematian Kristus dapat dianggap sebagai suatu kematian yang tragis. Kristus wafat dengan dihukum salib dalam usia 33 tahun. Usia yang relatif sangat muda. Namun mengapa Alkitab dan iman Kristen menghayati kematian Kristus yang sangat tragis tersebut menjadi suatu wujud dari karya keselamatan Allah yang sempurna? Apa bedanya kematian Kristus dengan Aleksander Agung dari Makedonia atau dengan Julius Caesar yang juga mati dibunuh oleh para musuhnya? Kalau Yesus Kristus diakui oleh dunia sebagai orang benar; bukankah juga cukup banyak orang-orang yang hidup benar tetapi mengalami kematian yang tragis? Bukankah Mahatma Gandhi (2 Oktober 1869 – wafat di New Delhi, India, 30 Januari 1948 pada umur 78 tahun) yang selalu memperjuangkan perdamaian dan pola hidup benar mengalami kematian tragis? Tetapi kematian orang-orang yang hidup benar di dunia ini tidak senantiasa diidentikkan dengan karya keselamatan Allah. Jadi apa dasar iman Kristen menjadikan kematian Kristus sebagai wujud dari karya keselamatan Allah? Tentu dasar ajaran iman Kristen tentang kematian Kristus di atas kayu salib sebagai wujud karya keselamatan Allah bukan sekedar suatu keyakinan yang sifatnya subyektif belaka. Kematian Kristus di atas kayu salib bagi umat percaya bukan sekedar suatu kematian tragis. Sebab peristiwa kematian Kristus telah diramalkan atau dinubuatkan terlebih dahulu oleh para nabi, khususnya oleh nabi Yesaya (hidup pada abad VIII sM) yaitu di Yes. 52 dan 53. Dengan perkataan lain, seandainya kematian Kristus tidak dinubuatkan terlebih dahulu oleh para nabi, maka sebenarnya kematian Kristus hanya dipandang sebagai suatu peristiwa yang sifatnya kebetulan belaka. Lebih penting lagi, seandainya seluruh kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus tidak menunjukkan hubungan yang erat dengan nubuat para nabi, maka peristiwa kematian Kristus hanya dianggap sebagai suatu kematian orang benar yang berhasil hidup kudus di hadapan Allah.

Karena kematian Kristus merupakan rencana dan wujud dari karya keselamatan Allah yang sempurna, maka tidaklah mengherankan jikalau masalah kematian Kristus sepanjang masa sering dipersoalkan dan menjadi suatu kontroversi. Beberapa kalangan menganggap Yesus Kristus tidak mati, sebab Dia terlebih dahulu diangkat ke sorga oleh Allah. Kalangan lain memiliki anggapan yang berbeda. Sebab bagi mereka Yesus Kristus sungguh-sungguh disalibkan tetapi Dia tidak sampai mati tetapi hanya mengalami mati suri sehingga akhirnya Dia siuman dan berhasil keluar dari kubur. Kelompok-kelompok yang saling berbeda pandangan tersebut, pada prinsipnya tetap menolak kematian Kristus. Sepertinya dalam kelompok-kelompok yang menepiskan kemungkinan Yesus mengalami kematian di atas kayu salib didasari oleh suatu “kekuatiran” tertentu. Mengapa mereka merisaukan soal kemungkinan kematian Kristus di atas kayu salib, sehingga timbul teori Dia diangkat oleh Allah dan diganti oleh salah seorang muridNya? Atau teori yang menyatakan bahwa Yesus hanya mati suri saja, sehingga Dia tidak pernah mengalami kematian di atas kayu salib? Mungkin satu-satunya tokoh sejarah yang kematianNya selalu dipersoalkan oleh banyak kalangan adalah kematian Yesus. Namun iman Kristen berdasarkan kesaksian Alkitab dan yang dikuatkan oleh dokumen-dokumen sejarah secara pasti menyatakan bahwa Yesus Kristus wafat di atas kayu salib. Peristiwa kematianNya telah membawa suatu dampak yang begitu besar dalam sejarah sehingga umat Kristen dapat hadir dan berperan secara transformatif dalam gelanggang sejarah. Tetapi juga kematian Kristus terbukti membawa dampak yang begitu besar dalam pemahaman teologis manusia tentang Allah dan karyaNya. Kematian Kristus memberikan pemahaman yang baru tentang makna serta tujuan kehidupan. Itu sebabnya kematian Kristus pada hakikatnya memiliki tempat yang sangat unik, khusus, memulihkan dan transformatif dalam kehidupan umat manusia. Melalui kematian Kristus, Allah telah mengungkapkan karya keselamatanNya yang sungguh-sungguh sempurna sehingga terjadilah pendamaian dan pemulihan hubungan antara Allah dengan umat manusia.

Sang Hamba Tuhan Sebagai Korban
Nabi Yesaya di Ye. 52 dan 53 menubuatkan tentang kedatangan seorang tokoh yakni sang Hamba Tuhan (Ebed Yahweh). Yang mana sosok sang Hamba Tuhan tersebut tampil sebagai seorang yang kelak akan dihina dan dihindari orang. Dia tampil sebagai manusia yang penuh dengan penderitaan dan biasa menderita kesakitan. Beberapa ahli menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan sang Hamba Tuhan adalah umat Tuhan sepanjang masa. Sebab bukankah umat Tuhan selaku para hambaNya sering mengalami penghinaan dan penderitaan karena mereka konsisten dalam mempertahankan iman dan kebenaran? Jadi menurut beberapa ahli tafsir, makna dari sosok sang Hamba Tuhan tersebut menunjuk kepada kedirian umat Allah yang sering menderita karena kebenaran. Umat Allah sering ditolak dan dipandang rendah oleh dunia. Tetapi tafsiran tersebut tidak mampu menjelaskan ketika nabi Yesaya menyatakan bahwa sang Hamba Tuhan tersebut akan tertikam oleh karena pemberontakan “kita” (orang ketiga jamak). Nubuat di Yes. 53: 5 berkata: “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh”. Berulangkali kata “kita” (orang ketiga jamak) digunakan dalam nubuat di Yes. 53:5. Makna “kita” di sini jelas menunjuk kepada komunitas umat Allah yang jalan hidupnya sering sesat dan jauh dari Allah. Jadi menjadi aneh maknanya kalau sang Hamba Tuhan tersebut diidentikkan dengan umat Allah yang harus menderita dengan cara ditikam dan diremukkan oleh “umat Allah”. Pertanyaannya adalah umat Allah manakah yang diwakili oleh sang Hamba Tuhan? Juga umat Allah yang manakah mewakili umat yang sesat dan jauh dari Allah? Jika demikian argumentasi atas makna dari sosok sang Hamba Tuhan tersebut lebih tepat menunjuk kepada suatu perseorangan. Tepatnya seorang yang memang secara khusus ditentukan oleh Allah untuk memerankan suatu tugas sebagai seorang Hamba Tuhan untuk menanggung dosa dan kesalahan umatNya.

Karena sang Hamba Tuhan tersebut hadir dan berperan untuk memerankan misi Allah yang menanggung dosa dan kesalahan umatNya, maka dia sama sekali tidak menunjukkan perlawanan dalam bentuk apapun. Yes. 53:7 berkata: “Dia dianiaya, tetapi Dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya”. Dalam konteks ini sang Hamba Tuhan akan memerankan tugasnya menjadi korban yang harus dibawa ke tempat pembantaian. Dalam tradisi dan ibadah umat Israel sebagaimana telah diatur dalam kitab Imamat menyatakan bahwa setiap umat yang berbuat dosa, maka haruslah dia mempersembahkan hewan korban kepada Allah. Ritual pendamaian dengan Allah dalam teologi umat Israel bukan dilakukan dengan cara memperbanyak amal-ibadah, tetapi perlu diselesaikan dengan mempersembahkan hewan korban. Sebab perbuatan dosa di hadapan Allah dalam pengertian hukum Imamat adalah suatu pelanggaran yang melawan kekudusan Allah. Sehingga setiap dosa yang dilakukan oleh umat haruslah dihukum dengan kematian. Namun Allah yang penuh rahmat tidak menghendaki umatNya yang berdosa menjadi binasa. Itu sebabnya Allah memerintahkan umat yang berdosa mempersembahkan hewan korban untuk pendamaian. Misal di Im. 4:13-14 berkata: “Jikalau yang berbuat dosa dengan tak sengaja itu segenap umat Israel, dan jemaat tidak menyadarinya, sehingga mereka melakukan salah satu hal yang dilarang Tuhan, dan mereka bersalah, maka apabila dosa yang diperbuat mereka itu ketahuan, maka haruslah jemaah itu mempersembahkan seekor lembu jantan yang muda sebagai korban penghapus dosa”. Hewan korban yang dipakai untuk menjadi pengganti atau penebus dosa umat disebut dengan “asyam”. Dalam hal ini hewan korban (asyam) berfungsi untuk mengganti atau menebus dosa umat, sehingga umat tidak lagi berada di bawah murka atau hukuman Allah. Pertanyaan yang muncul adalah bagaimanakah mungkin hewan korban yang menjadi “asyam” dapat berfungsi secara efektif menggantikan dosa dan kesalahan manusia? Logikanya adalah: hanya seorang manusia yang sempurna dan hidup tanpa cela dan yang ditentukan oleh Allah sendiri yang mampu mengganti atau menebus dosa umatNya. Manusia sempurna yang ditentukan oleh Allah untuk menjadi “asyam” bagi seluruh umat manusia adalah sang Hamba Tuhan. Kedudukan dan peranNya yang kudus untuk menjadi korban (asyam) bukan ditentukan oleh kebenaran diriNya, tetapi oleh kehendak Allah. Itu sebabnya Dia disebut sebagai sang Hamba Tuhan.

Esensi pemulihan dan pendamaian dengan Allah yang diperankan sang Hamba Tuhan tersebut secara spesifik dinyatakan melalui penderitaan dan kematianNya. Sebagai korban (asyam), Dia harus mengalami penderitaan dan kematian. Yes. 53:5b menyaksikan: “ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh”. Sehingga gagasan Yes. 53:5b tersebut sebenarnya terkait erat dengan Yes. 53:8b yang berkata: “Sungguh, ia terputus dari negeri orang-orang hidup, dan karena pemberontakan umatKu ia kena tulah”. Sebab apabila Yes. 53:5b menyatakan keadaan penderitaanNya, maka Yes. 53:8b menyatakan bagaimana penderitaan yang dialamiNya akan berakhir dengan suatu kematian. Kedua pengertian nubuat di Yes. 53:5b dengan Yes. 53:8b pada prinsipnya ditempatkan dalam konteks Allah yang menimpakan hukuman dan murkaNya kepada sang Hamba Tuhan agar sang Hamba Tuhan tersebut menyelamatkan umatNya dari kuasa dosa. Dengan demikian sang Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya menyelesaikan seluruh tugasNya sebagai korban (asyam) secara sempurna melalui penderitaan dan kematianNya. Kedirian sang Hamba Tuhan yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya tersebut menunjuk secara signifikan kepada Yesus Kristus. Dalam hal ini pernyataan Yohanes Pembaptis sangatlah tepat ketika dia berkata kepada orang banyak seraya menunjuk diri Yesus adalah: “Lihatlah Anak Domba Allah yang menghapus dosa dunia” (Yoh. 1:29).

Keselamatan Allah Di Balik Kejahatan Manusia
Kesaksian Yoh. 18:1 - 19:42 mengisahkan drama sang Hamba Tuhan yakni Yesus Kristus untuk memenuhi ketentuan dan kehendak Allah. Sangat menarik bahwa peranNya untuk menebus dosa umat justru diteguhkan oleh perkataan para musuhNya. Kayafas yang pada tahun itu menjadi Imam Besar mengucapkan perkataan yang justru menguatkan nubuat nabi Yesaya. Di Yoh. 18:14, Kayafas berkata: “Adalah lebih berguna jika satu orang mati untuk seluruh bangsa”. Tanpa disadari oleh Imam Besar Kayafas, dia telah menubuatkan bahwa memang lebih baik jika Tuhan Yesus mati agar seluruh bangsa menjadi selamat. Dalam hal ini sebagian perkataan Kayafas benar, bahwa kematian Tuhan Yesus dapat membawa keselamatan untuk seluruh umat. Tetapi sebagian perkataan Kayafas yang lain tidaklah benar. Sebab bukan karena upaya dan otoritas Kayafas selaku Imam Besar yang menentukan nasib atau kematian Tuhan Yesus. Sebab kematian Kristus dapat terjadi karena ketentuan dan kehendak Allah yang memakai Kayafas dan Pilatus. Dengan perkataan lain kematian Yesus sebenarnya bukan karena ditentukan oleh kehendak manusia atau kuasa dan otoritas kerajaan Romawi yang saat itu akan memvonis Tuhan Yesus. Saat Pilatus berkata bahwa dia selaku wakil kaisar memiliki otoritas atau kuasa untuk membebaskan dan menyalibkan Yesus, dengan segera Yesus berkata: “Engkau tidak mempunyai kuasa apapun terhadap Aku, jikalau kuasa itu tidak diberikan kepadamu dari atas” (Yoh. 19:11). Dengan demikian di balik vonis kuasa dunia yang saat itu sedang berupaya untuk menjatuhkan hukuman salib bagi Tuhan Yesus, Allah telah mengubahnya menjadi media keselamatan yang mendamaikan diriNya dengan umat manusia. Jadi semula kuasa dunia beranggapan bahwa dengan menjatuhkan hukuman salib kepada Yesus, maka karya keselamatan Allah yang terwujud dalam diri Yesus akan berhasil digagalkan. Sehingga ketika Yesus akhirnya wafat di atas kayu salib, kuasa dunia atau kegelapan beranggapan bahwa mereka telah memperoleh kemenangan mutlak dengan menggagalkan karya keselamatan Allah.

Pola pikir kuasa dunia dan kegelapan sering terjadi dalam kehidupan kita sehari-hari. Yang mana pola pikir dunia kerap mendorong diri kita dengan suatu anggapan palsu bahwa diri kita adalah penentu dari karya keselamatan Allah. Sehingga apabila kita tidak lagi berperan aktif dalam suatu pelayanan gerejawi , maka karya keselamatan Allah yang terjadi dalam kehidupan jemaatNya dianggap akan segera runtuh. Bukankah sikap kita tersebut seperti perilaku Kayafas dan Pilatus yang merasa memiliki wewenang dan otoritas untuk menentukan sesuatu. Seakan-akan segala keputusan dan kebijaksanaan kita yang akan menentukan seluruh pertumbuhan atau arah perkembangan jemaat Tuhan. Tanpa kita sadari, kita sering berperilaku sebagai para pelayan Tuhan yang sombong dan takabur. Padahal peran dan otoritas yang kita miliki dalam suatu jabatan gerejawi dapat terjadi karena “kuasa itu diberikan dari atas”. Sehingga apabila otoritas atau wewenang tersebut tidak digunakan dengan hati yang murni, maka akan dipakai oleh kuasa kegelapan untuk menggagalkan karya keselamatan Allah. Akhirnya kita bertindak seperti Kayafas dan Pilatus yang menghukum atau memvonis orang yang tidak bersalah. Tetapi pertanyaan penting di sini adalah apakah kemudian rencana dan karya keselamatan Allah dapat digagalkan oleh upaya manusia? Untuk sementara waktu sepertinya karya keselamatan berhasil digagalkan. Padahal Allah selalu mampu mengubah hasil kejahatan manusia menjadi media untuk menyatakan kemulian dan karya keselamatanNya.

Apabila Kayafas dan Pilatus merasa memiliki otoritas dan kuasa sehingga mereka bertindak takabur, maka tidaklah demikian sikap Tuhan Yesus. Dia tetap mampu menghadapi segala kejahatan dan tipu daya dunia ini dengan sikap yang tenang dan arif. Walaupun Tuhan Yesus saat itu berada dalam situasi yang sangat kritis, Dia mampu menjawab dengan bijaksana setiap tuduhan dari para lawanNya. Esensi jawaban-jawaban dari Tuhan Yesus tidak pernah terjebak dalam sikap pembenaran diri, tetapi senantiasa memamparkan hakikat kebenaran Allah dan karyaNya, serta mengingatkan para lawanNya agar mereka takut terhadap kuasa Allah. Dari percakapan atau dialog Tuhan Yesus dengan Kayafas dan Pilatus makin terlihat dengan begitu jelas sosokNya selaku sang Hamba Tuhan yang begitu kontras dengan pola kehidupan kita yang sesat dan selalu menyimpang dari kehendak Allah. Yes. 53:6 berkata: “Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepadanya kejahatan kita sekalian”. Namun semua penyimpangan dan kesesatan kita tersebut diterima oleh Tuhan Yesus dengan penuh kerelaan. Jadi tujuan dari karya keselamatan Allah pada hakikatnya menghendaki agar kehidupan kita makin serupa dengan Tuhan Yesus, yaitu memerankan diriNya selaku sang Hamba Tuhan yang setia dan taat kepada kehendak Allah. Sehingga apabila kita dianiaya dan diperlakukan tidak adil, seharusnya kita selalu meneladan Kristus. Saat kita berada dalam suasana kebencian dan permusuhan, kita tetap dimampukan untuk memperlihatkan kasih dan pengampunan Allah.

Membuka Jalan Yang Baru Dan Yang Hidup
Kematian Kristus menjadi karya Allah yang sempurna karena kematianNya selain mendamaikan dan mendatangkan pengampunan Allah, juga telah membuka jalan yang baru dan yang hidup. Maksudnya kematian Kristus bagi setiap orang yang percaya berhasil membuka dimensi komunikasi dan relasi yang hidup baik secara vertikal maupun secara horisontal. Bila semula hubungan manusia dengan Allah terputus bahkan terbentang suatu jarak yang tidak mungkin terjembatani; maka kini melalui kematian Kristus, Allah berkenan menjadi Bapa dan umat manusia menjadi anak-anak Allah. Dengan statusnya sebagai anak-anak Allah, dalam iman kepada Kristus kini kita memperoleh hak waris Kerajaan Sorga yaitu keselamatan dan hidup kekal. Selain itu kematian Kristus juga memulihkan hubungan dengan sesama. Semua tembok pembatas yang bernama kesukuan, bahasa, budaya, kebangsaan, status sosial, atau segala sesuatu yang serba eksklusif berhasil dirobohkan oleh kematian Kristus. Sehingga di dalam Kristus, kita disatukan sebagai keluarga umat Allah. Kini seluruh umat manusia melalui kematian Kristus tanpa kecuali telah diikat dalam kasih dan pengampunan Allah. Ibr. 10:19-20 berkata: “Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat yang kudus, karena Ia telah membuka jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diriNya sendiri, dan kita mempunyai Imam Besar sebagai Kepala Rumah Allah”. Jadi sangatlah jelas bahwa kuasa dunia yang semula ingin mematahkan karya keselamatan Allah dengan cara menyalibkan Kristus justru diubah oleh Allah menjadi karya keselamatanNya yang sempurna. Sebab melalui darah Kristus, Allah telah membuka penutup tabir yang memisahkan diriNya dengan umat manusia, dan menyingkapkan penutup tabir yang semula memisahkan manusia dengan sesamanya.

Dengan karya keselamatan Allah yang sempurna tersebut, maka seharusnya kita selaku umat yang telah ditebus bersedia menjadi kawan sekerjaNya. Melalui kehidupan sehari-hari seharusnya kita mampu menjembatani setiap konflik, permusuhan, dan berbagai perbedaan yang memisahkan manusia dengan sesamanya. Namun seringkali terjadi justru kehidupan kita menjadi tabir yang menutupi atau menghalangi komunikasi dan proses pendamaian. Di mana kita hadir, justru menjadi kehadiran yang semakin memperkuat sekat-sekat atau tembok-tembok yang memisahkan sesama yang semula hidup dengan rukun dan damai. Atau di mana kita berperan, justru kita menciptakan kekacauan yang semakin merusak relasi kasih atau menghancurkan syalom Allah. Jika demikian maka makna kehadiran dan peran kita tidak lagi secara riel mendukung karya keselamatan Allah. Sebaliknya kehadiran dan peran kita telah berubah menjadi musuh Allah sebab kita menghalangi karya keselamatan Allah yang mendamaikan dan mengampuni. Padahal dunia pada masa kini telah terhubungkan dengan teknologi komunikasi dan multi media yang begitu canggih. Kita sekarang dapat berkomunikasi dengan setiap orang seluas-luasnya tanpa dibatasi oleh tempat dan waktu secara cepat, mudah dan murah. Tetapi nyatanya pada masa kini tembok-tembok pemisah masih begitu tebal dan sulit ditembus. Bahkan dengan teknologi komunikasi seperti internet dan telepon yang seharusnya dapat memperluas jaringan komunikasi antar manusia justru dipakai untuk menciptakan tembok-tembok eksklusivisme. Bukankah cukup banyak orang-orang di sekitar kita seperti anggota keluarga dan anggota jemaat yang merasa tersingkirkan atau teralienasi? Contoh yang konkret seperti fasilitas internet yang seharusnya dipakai menghubungkan setiap orang tanpa batas dan makin produktif justru dipakai untuk memperkuat sikap egoisme dan individualisme yang tenggelam dalam dunia maya.

Panggilan
Kristus telah wafat bagi kita agar kita dapat berperan sebagai anak-anak Allah yang efektif untuk membawa pembaharuan dalam kehidupan ini. Dengan demikian melalui kematian Kristus, karya keselamatan Allah secara esensial dan substansial telah memperdamaikan seluruh umat manusia dengan Allah dan sesamanya. Jadi sampai sejauh manakah peran kita selaku umat tebusan Kristus? Apakah peran transformatif dari penebusan Kristus tersebut telah terwujud nyata dalam kehidupan kita?

Read More......

17 Mei 2009

renungan

APAKAH ENGKAU MENGASIHI YESUS ?

 ( YOHANES 21 : 15 - 19 )

      

       

        Menanggapi pertanyaan di atas, mungkin akan beragam jawaban yang kita berikan. Bisa saja kita mengatakan, itu tidak relevan lagi karena saya sudah lama mengikut Yesus. Jawaban yang lain mungkin akan mengatakan,ah.. ada-ada saja, kan sudah jelas saya mengasihi Yesus, buktinya saya rajin beribadah. Tetapi boleh saja ada yang marah menanggapi pertanyaan yang demikian. Tetapi Petrus tidak memberikan reaksi yang demikian, dia tetap menjawab dengan sabar pertanyaan Tuhan Yesus, sampai tiga kali. Demikian cuplikan percakapan mereka: Pertama :”Simon, anak Yeohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari mereka ini semua ?” Jawab Petrus : “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”. Kedua :”Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Jawab Petrus : “Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau”. Ketiga : ”Simon, anak Yeohanes, apakah engkau mengasihi Aku?” Setelah pertanyaan yang ketiga ini, maka hati Petrus menjadi sedih dan dia menjawab :”Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau “. Pertanyaan Yesus selalau diikuti dengan perintah “Gembalakanlah domba-dombaKu”. Dialog mereka ditutup dengan ajakan dari Yesus dengan perkataan:”Ikutlah Aku”.

      Sekarang pertanyaan ini menyapa kita semua :”Apakah engkau mengasihi Aku ? Tentu jawaban kita, seharusnya adalah seperti jawaban Petrus yang berkata: “Benar Tuhan, Engkau tahu bahwa aku mengasihi Engkau”. Bila ini jawaban kita, maka Tuhan Yesus mengatakan :”Gembalakanlah domba-dombaKu”. Pernyataan kasih terhadap Tuhan harus diikuti satu tindakan yang nyata sebagai tanggungjawab dan bukti konkrit dari kasih tersebut. Melakukan peribadahan dan  kewajiban-kewajiban Gerejani adalah salah satu bukti kasih terhadap Allah. Tetapi lebih daripada itu, adalah menjaga kawanan domba Allah. Hal ini berarti, bahwa setiap hamba Tuhan (Jemaat), berkewajiban menjaga keselamatan rohani jemaat yang lain. Dan setiap jemaat wajib menjaga keutuhan persekutuan sebagai kawanan domba-domba Allah. Hal itu membutuhkan pengorbanan dan ketulusan, dan lebih daripada itu harus selalu berorientasi dan bergantung kepada Tuhan Yesus, yang adalah  pemilik kawanan domba tersebut.

           Supaya hal itu dapat kita lakukan, maka marilah kita mengikut Yesus, dan selalu merindukan Dia di setiap perjalan hidup kita, dan menggantungkan hidup kita kepadaNya. “Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan (1 Pet.2:2). Amin.

Read More......

16 Mei 2009

renungan

KASIH ALLAH DAN KEMARAHAN MANUSIA

 ( YUNUS 4 : 1 - 11)

 

       Kitab Yunus ditulis dengan tiga tujuan, yaitu : 1. Untuk menunjukkan kepada Orang Israel dan bangsa-bangsa lainnya, betapa besar dan luasnya kasih sayang dan tindakan Allah yang menyelamatkan seluruh bangsa melalui pemberitaan pertobatan. 2. Untuk menunjukkan melalui pengalaman Yunus, betapa jauhnya Umat Israel telah jatuh dari panggilan missioner yang semula, yaitu untuk menjadi terang penebusan bagi orang-orang yang tinggal dalam gelap (Kej.12:1-3; Yes.42:6-7; 49:6). 3. Untuk memperingatkan Israel yang murtad bahwa Allah dalam kasih dan kemurahanNya telah mengutus banyak nabi yang setia untuk menyampaikan berita dan seruan pertobatan agar mereka dapat menghindarkan hukuman atas dosa yang tak dapat dielakkan. Tetapi berbeda dengan Niniwe, Israel telah menolak nabi-nabi Allah dan tawaranNya untuk bertobat dan menerima kemurahan Allah.

       Melalui Firman Tuhan hari ini, kita diingatkan akan kasih Allah kepada dunia ini, yang tidak dibatasi oleh apapun (Yoh.3:16). Dalam kasih yang demikianlah kita dipanggil untuk mengemban tugas panggilan kita, yaitu untuk mewartakan kabar baik ke seluruh dunia dan kepada seluruh mahluk. Sebagai pengemban Misi Allah, kita harus lebih mengutamakan keinginan Allah, daripada selera, keinginan, dan pertimbangan pribadi kita yang sering bertolak belakang dengan kebenaran Firman yang sesungguhnya. Mungkin kita sering bertingkah seperti Yunus, yaitu marah karena Allah mengampuni musuh kita. Kita sering tidak menginginkan Allah menyelamatkan musuh orang percaya diluar agama kita. Kita sangat reaktif, apabila dikatakan “orang lain” di luar agama kita juga akan diselamatkan apabila mereka bertobat.

       Bila sikap dan perbuatan kita masih demikian, hari ini Tuhan mengajar kita, melalui kisah Yunus. Yunus di satu sisi lebih mengasihi sebatang pohon Jarak dari pada seratus dua puluh ribu orang Niniwe. Sesungguhnya, bukan pohon Jarak tersebut yang dikasihinya, tetapi dirinya sendirilah yang dikasihinya. Maka Tuhan bertanya kepada dia: “Layakkah engkau marah ?” Kemarahan sesungguhnya lahir dari egoisme dan mementingkan diri sendiri. Maka bila Tuhan sudah begitu kasih mengampuni dan menebus kita, maka kita tidak layah marah apabila Tuhan juga mengasihi siapun manusia yang lain, apapun latar belakangnya.

       Ingatlah bahwa Allah itu adalah Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Bila dikatakan Allah itu Pengasih, berarti, Ia ingin menolong orang, Allah itu penyayang, berarti, Ia ikut menderita bersama-sama dengan mereka yang menderita. Allah itu juga Panjang Sabar, berarti, Ia tidak ingin menghukum orang fasik, tetapi menunggu pertobatan orang fasik supaya diselamatkan. Allah lebih senang membatalkan rencana penghukumanNya dan menantikan pertobatan. Ingatlah Firman Tuhan yang berkata: “Jangan marah karena orang-orang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang-orang yang berbuat curang” (Mzm.37:1). “Percayalah kepada Tuhan dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia” (Mzm.37:3). Marilah kita saling mengasihi, karena Allah sudah lebih dahulu mengasihi kita. Amin.

 

Read More......

06 Mei 2009

renungan


PELITA DAN JALAN KEHIDUPAN  
( AMSAL 6 : 20 – 29 )

Dalam perjalanan melewati gurun kehidupan di dunia ini, kita sering tergoda untuk menyimpang dari jalan kehidupan yang benar. karena jalan tersebut, sempit, berliku dan mendaki, sedangkan jalan kehidupan yang ditawarkan dunia, lebar, lurus dan mulus, seta menjanjikan perjalanan yang mengasikkan. Secara umum, manusia menginginkan dan mencari jalan hidup yang demikian. Dan untuk mencapai hal tersebut, manusia beranggapan hal itu dapat diperoleh  setidak-tidaknya melalui  tiga hal, yaitu: harta, jabatan/kuasa dan seks (wanita). Ketiga hal tersebut, sangat kuat mempengaruhi kehidupan manusia dan mampu menarik manusia itu keluar dari jalan kehidupan yang benar dan jatuh ke dalam kesesatan. Hal ini terjadi, karena ketiganya (harta, kuasa/jabatan dan seks/wanita) menjanjikan kenikmatan semu dan sementara  yang berakhir pada kesengsaraan yang berabad-abad. Hal ini terkadang samar bila disimak dengan selera dan keinginan, tetapi bila dicermati dengan firman Tuhan maka semua akan terang dan jelas.

     Maka supaya kita tetap berjalan di jalur kehidupan yang benar yang akan mengantar kita sampai kepada kehidupan yang kekal dan kebahagiaan yang abadi, marilah kita tetap berjalan dengan terang Firman Tuhan, karena Firman Tuhan akan menyinari jalan kita, sehingga kita tahu memilih jalan dan melangkah dengan tepat. Pemazmur mengatakan: “FirmanMu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku” (Mazmur 119:105). Firman Tuhan tersebut dapat kita baca di dalam Alkitab, tetapi dapat juga kita terima dari orang tua berupa nasihat dan teguran.  Di dalam ayat 23 dikatakan :”Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan yang melindungi engkau terhadap perempuan jahat, terhadap kelicikan lidah perempuan asing”. Bila demikian, maka perintah dan nasihat itu harus kita turuti supaya kita jangan tergoda dan tersesat di dunia ini. Nasihat itu harus ditambatkan di hati dan dikalungkan pada leher, supaya ketika berjalan nasihat itu yang memimpin, ketika berbaring kita dijaganya, dan ketika bangun kita disapanya. (ay.20-22). Singkatnya, bila setia dengan teguran dan nasihat orang tua akan mendatangakan hidup, sebaliknya bila menyia-nyiakan nasihat akan celaka (bnd: “Pantun hangoluan, tois hamagoan”).

     Secara khusus di dalam perikop bacaan kita hari ini, kita diingatkan akan godaan perjinahan (seks bebas). Hal ini menjadi keprihatinan dan pergumulan kita bersama pada saat ini, dimana semakin banyak orang yang menganut budaya hidup bebas. Dan roh jaman seolah-olah memaksa kita untuk membenarkan pelanggaran tersebut, dengan perkataan memang sudah jamannya begitu. Hal ini diperparah dengan munculnya tuntutan dari sebagaian kecil anggota jemaat yang mewakili kaum muda dengan mengatakan RPP HKBP tentang perkawinan di luar nikah terlalu kejam. Bila ini kita benarkan, bukankah kita sudah mengingkari firman Tuhan ? bukankah kita sudah melupakan nasihat orang tua ? jangan-jangan jalan kita sudah menyimpang. Bila hal itu kita pikirkan, maka kembalilah ke jalan Tuhan supaya kita hidup. Firman Tuhan berkata : “Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih ? dengan menjaganya sesuai dengan firmanMu” ( Mazmur 119:9). Selamat berjalan di dalam terang Tuhan. 

Amin.

Read More......

07 April 2009

Renungan


“ PERGILAH, AKU MENGUTUS KAMU “
( LUKAS 10 : 1 - 12 )

Tuhan Yesus memanggil setiap umatNya dimana Ia berkata : “ Ikutlah Aku…”, dan kita menjawab dengan berkata : “ …inilah aku ya Tuhan, utuslah Aku..”. Sekarang Tuhan Yesus mengutus kita untuk pergi bersaksi dengan berkata :”Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (ay.3). Dari amanat diatas, kita diingatkan, bahwa waktunya adalah “Sekarang”, artinya tidak ada waktu untuk menunggu.( selesai sekolah, menikah dulu, pensiun dulu, dll). Inilah saatnya kita diutus untuk memberitakan Yesus kepada orang lain sehingga mereka dimenangkan menjadi pengikut Yesus (Boan sadanari). Dalam melaksanakan tugas panggilan tersebut ada beberapa hal yang harus kita perhatikan, yaitu :

a. Diutus berdua (ay.1-2)
Tuhan Yesus mengutus 70 orang murid berdua-dua, apakah maksudnya ? Dari awal mencipta manusia, Tuhan Allah berfirman : “Tidak baik kalau manusia itu seorang diri saja…” (Kej.2:18). Kemudian Allah menjadikan seorang penolong bagi manusia itu, yang menjadi mitra dan rekan yang saling menolong dan melengkapi di dalam menjalankan tugasnya mengelola bumi. Demikian halnya dengan tugas untuk bersaksi, kita harus melakukannya bersama-sama dengan saudara yang lain di dalam satu tim (Majelis, Dewan seksi dan jemaat), dan harus saling bertolong-tolongan menanggung beban (Gal.6:2). Demikianlah kita memenuhi hukum Kristus.

b. Diutus seperti Domba ke tengah-tengah Serigala (ay.3)
Kita di utus ke dunia, dan seluruh dunia ini telah dikuasai oleh sijahat (1 Yoh. 5:19). Bila demikian, setiap pengikut Kristus akan diperhadapkan dengan berbagai kesulitan dan pergumulan karena tipu daya dari Iblis. Tetapi berbagai pergumulan dan kesulitan hidup tidak akan pernah menyurutkan langkah kita di dalam pemberitaan injil.

c. Jangan bergantung kepada dunia (ay.4)
Dalam melaksanakan program di Gereja, kita tidak harus selalu berhitung berapa modal yang kita miliki dan apa target yang hendak kita capai, tetapi kita harus berangkat dari iman, dan tidak bersandar pada pikiran dan tenaga sendiri (pundit-pundi, bekal, kasut dan orang lain).

d. Jadilah berkat bagi orang lain (ay.5-9)
Kemanapun kita pergi kita harus membawa salam perdamaian dan damai sejahtera. Sehingga dimanapun kita hadir harus membawa kesejukan, suka cita dan jalan keluar bagi setiap persoalan.

c. Serahkan pembalasan kepada Tuhan ( ay.10-12)
Walau kita memberitakan injil dan melakukan segala hal yang baik, pasti ada yang menolak bahkan mencaci kita. Hal itu mungkin membuat kita jengkel dan marah, tapi biarlah Tuhan yang membalas semuanya itu, karena itu adalah hak Tuhan (Rom.12:19), dan hukuman mereka lebih berat dari hukuman terhadap Sodom.
Karena itu dengarlah seruan Tuhan hari ini yang berkata : “Pergilah, Aku mengutus kamu” . “Tetapi kuasailah dirimu dalam segala hal, sabarlah menderita, lakukanlah pekerjaan pemberita injil dan tunaikanlah tugas pelayananmu” (2 Tim.4:5). Selamat melayani.

Amin.

Read More......

03 April 2009

renungan

“ ROH KUDUS MEMIMPIN DAN MEMPERSATUKAN ( BILANGAN 11 : 24 - 29)

Salah satu nama Minggu Gereja setelah Minggu Paskah adalah Minggu “Pentakoste” (Hari kelima puluh sesudah kebangkitan) atau sering dikatakan sebagai hari peringatan akan turunnya Roh Kudus. Roh Kudus dikatakan juga Roh Penghibur yang bertugas untuk mengajarkan segala sesuatu dan mengingatkan para murid akan semua yang telah diajarkan oleh Yesus. Hal ini sesuai dengan perkataan Yesus yang mengatakan : “Tetapi Penghibur, yaitu Roh Kudus, yang akan diutus oleh Bapa dalam NamaKu, Dialah yang akan mengajarkan segala sesuatu kepadamu dan akan mengingatkan kamu akan semua yang telah kukatakan kepadamu” (Yohanes 14:26). Di samping itu Roh Kudus juga akan memimpin para murid hidup di dalam kebenaran, sebagaimanana dikatakan : “ Tetapi apabila Ia datang, yaitu Roh Kebenaran, Ia akan memimpin kamu ke dalam seluruh kebenaran: Sebab Ia tidak berkata-kata dari diriNya sendiri, tetapi segala sesuatu yang didengarNya itulah yang akan dikatakanNya dan Ia akan memberitakan kepadamu hal-hal yang akan datang” (Yohanes 16:13). Dari uraian di atas, maka dapat dikatakatan bahwa Roh Kudus itu bertugas untuk mengajar dan memimpin para murid (manusia) hidup dalam persekutuan dan kebenaran Tuhan.

Demikianlah dalam peikop bacaan kita hari ini, ketika Musa merasa hampir putus asa memimpin umat Israel yang keras tengkutnya itu (Jogal Rungkung /JRG), dia mengadu kepada Tuhan dengan berkata :”Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku” ( Bil.11:14). Maka Tuhan menyuruh Musa untuk mengumpulkan tujuh puluh orang tua-tua Israel supaya diberikan Tuhan Roh yang hinggap pada Musa kepada mereka, sehingga mereka sama-sama memimpin dan memikul tanggung jawab memimpin bangsa itu menuju satu tujuan yaitu Kanaan.(Ay.17, 25). Dengan singkat dapat dikatakan, Bahwa Tuhan sendirilah yang memimpin bangsa itu, dengan perantaraan Musa dan tujuh pulu orang tua-tua Israel yang dituntun oleh Roh Tuhan.

Dalam kehidupan kita saat ini, bila kita merasa putus asa dan seolah tidak mampu lagi memimpin hidup pribadi, keluarga, kelompok dan persekutuan kita, dan tujuan hidup kita menjadi kabur, mintalah kusa Roh Kudus untuk memimpin dan mempersatukan kita. Tetapi harus kita ingat, bahwa tidak seorangpun yang berkuasa atas Roh Kudus selain Tuhan. Artinya Roh Kudus tidak dapat diatur dan dikuasai oleh manusia. Dan bahasa Roh Kudus tidak dapat dipelajari karena itu adalah anugerah dan pemberian Allah. Roh Kudus juga memimpin kita kepada kebenaran dan mempersatukan pengertian yang berbeda (Kisah 2 : 1 – 13). Roh Kudus juga akan memimpin kita mencapai tujuan bersama yaitu menyaksikan Tuhan (bernubuat) dan berjalan menuju Kanaan ( Hidup Kekal). Terimalah Roh Kudus dan hiduplah dalam pimpinanNya. Amin.

Read More......

22 Maret 2009

Jelang Pemilu 2009






BELAJAR DARI KEMENANGAN HITLER
(diadopsi dari Institut Leimana News, edisi 01 / 2009)
Oleh Tobias Basuki






Salah satu noda hitam paling tragis dalam sejarah akibat tingginya Golongan Putih (golput) terjadi di Jerman. Tahun 1920 partai Nazi dibentuk. Awalnya, partai ini hanya mendapatkan 3% suara di Pemilu Legislatif, dan bahkan turun menjadi 2,6% di Pemilu berikutnya. Tapi tahun 1929 bursa saham Wall Street runtuh, dan tahun 1930 partai kecil ini langsung melejit dan mendapatkan 18,3% suara di Pemilu Lagislatif. Jumlah ini menjadi suara kedua terbesar di Parlemen karena banyak rakyat yang golput. Tahun 1933 Hitler terpilih sebagai Kanselir Jerman. Setelah itu kita semua tahu, berkuasanya Hitler merupakan salah satu pemicu utama terjadinya Perang Dunia ke-2.



Dari sejarah kita dapat melihat bahwa partai-partai kecil yang radikal bisa mendapatkan kekuasaan dan mengontrol suara mayoritas akibat golput. Beberapa tahun sebelumnya, hal serupa telah terjadi di Rusia dalam revolusi Bolshevik yang dipimpin Lenin (1917). Lewat ide-idenya yang destruktif, partai-partai kecil ini menguasai dan mengontrol arah negara. Umumnya ada 3 (tiga) penyebab utama kemenangan mereka:


Pertama: Krisis Ekonomi. Awalnya, nazi adalah partai kecil tanpa dukungan, tapi begitu krisis financial tahun 1929 memukul dunia, partai ini langsung naik daun. Pada saat itu, Jerman sedang menderita depresi ekonomi dan sosial politik yang parah, dan banyak yang mengharapkan munculnya seorang pemimpin yang kuat.



Kedua: Pemerintahan yang lemah dan inkonsisten dalam menerapkan hukum . Sebelum berkuasa, Hitler adalah oposan yang militan terhadap pemerintah yang berkuasa. Ia pernah berusaha mengambil alih pemerintahan daerah di Baravian dengan kekerasan, tapi hanya dihukum satu tahun saja.



Ketiga: Tingginya tingkat apatisme rakyat untuk memilih dalam Pemilu . Sikap rakyat Jerman di masa pra – Hitler tidak lagi peduli akan nasib bangsanya, bahkan untuk sekedar melakukan hal yang sederhana, yaitu memilih dalam pemilu. Jangan biarkan sejarah kelam Jerman terulang di Indonesia. Ketidak-pedulian Anda dapat menghancurkan banyak orang, termasuk diri Anda sendiri. Satu suara berarti, karena itu jangan lepaskan hak pilih Anda.

Read More......

19 Maret 2009

Renungan

“ BERSORAK – SORAKLAH BAGI ALLAH ”
( Zefanya 3 : 14 – 20 )
Kebanyakan orang saat ini, selalu mengatakan bahwa masa kini adalah masa yang sulit dan penuh pergumulan. Buktinya, dunia semakin kacau dan kehidupan semakin sulit. Hal itu ditandai dengan berbagai bencana, resesi global dunia yang mengancam dan krisis yang berkepanjangan yang dialami Negara kita.
Keagungan dan Kuasa Tuhan nyata di dalam alam ciptaanNya (Pernyataan umum), di ay.6-7 dikatakan :”Oleh Firman Tuhan langit telah dijadikan…, Ia mengumpulkan air laut seperti dalam bendungan. Ia menaruh samudera raya ke dalam wadah”. Sesungguhnya, bila melihat keindahan alam, pertanyaan yang muncul adalah siapakah yang menciptakan ini semua ? Sadar atau tidak, kita sudah mengakui ada satu kekuatan yang luar biasa (supranatural) yang memiliki kuasa untuk menciptakan alam yang indah tersebut. Siapakah Dia yang memiliki kuasa yang demikian dasyat ? Dia kemudian telah menyatakan diriNya di dalam Firman Hidup, yaitu di dalam diri Yesus Kristus (Penyataan khusus). Firman Tuhan berkata : “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah” (Yoh.1:1). Di dalam diri Yesus Firman itu menjadi daging dan kasih setia Tuhan dinyatakan ke dalam dunia, supaya dunia diselamatkan. Inilah pengakuan Pemazmur yang mengatakan : “Sebab Firman itu benar, segala sesuatu dikerjakanNya dengan kesetiaan” (Ay.4). Dengan FirmanNya Ia memerintahkan segala sesuatu dan itu menjadi ada.
Saudara/i yang dikasihi Yesus Kristus, ditengah kesulitan yang kita hadapi di dalam kenyataan hidup saat ini, mungkin akan muncul pertanyaan yang berkata : Masihkah kita dapat melihat dan menemukan keagungan Tuhan pada saat ini ? Masih adakah kasih setia Tuhan bekerja untuk menyelamatkan umatNya ?. Pada Minggu Miserikordias Domini hari ini, kita harus menyaksikan :”Bumi penuh dengan kasih setia Tuhan”. Karena Tuhan tidak pernah berubah, kasih setiaNya tetap untuk selamanya. Firman Tuhan berkata : “Tetapi rencana Tuhan tetap selama-lamanya, rancangan hatinya turun-temurun (Mazmur 33:11) dan “ Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya” (Ibrani 13:8).
Kalau demikian apakah yang berubah ? Mungkin jawabannya, kitalah yang berubah yang tidak percaya dengan segenap hati dan tidak setia kepada Tuhan, tetapi bersandar kepada pengertian sendiri, sehingga kita tidak dapat melihat mujizat dan kasih setia Tuhan. Maka biarlah dalam seluruh perjalanan hidup, kita senantianya berharap akan kasih setia Tuhan. Sebab FirmanNya berkata : “Sesungguhnya, mata Tuhan tertuju kepada mereka yang takut akan Dia, kepada mereka yang berharap akan kasih setiaNya, (Mazmur 33:18). Berbahagialah bangsa yang Allahnya ialah Tuhan (YHWH / Yahwe) (Ay.12).
Amin.

Read More......

05 Maret 2009

renungan

“BAPTISAN SEBAGAI AWAL HIDUP BARU
DAN DISEMPURNAKAN DI DALAM KRISTUS”
( Kolose 2 : 12 – 15 )

Awal baru di dalam sejarah kerajaan Allah sesudah peristiwa Menara Babel (Kej.11:1-9), adalah pemanggilan Abraham. Dalam memenuhi Panggilan Tuhan tersebut, Abraham harus meninggalkan : Tempat tinggalnya selama ini (kampung dan lingkungannya), Keluarga (kaum kerabatnya) dan adat budaya yang selama ini dijalaninya. Artinya, untuk memenuhi panggilanNya dia harus meninggalkan yang lama dan memulai yang baru. Selanjutnya pemanggilan itu dimateraikan di dalam perjanjian dengan “Sunat”. Dalam peristiwa ini, dia menerima nama yang baru, dari “Abram” menjadi “Abraham “ (Kej.17:5). Selanjutnya tugas Abraham adalah untuk menyaksikan YHWH (Jahweh) kepada bangsa-bangsa di sekitarnya. Dan dengan ini, peperangan rohani sesungguhnya telah dimulai Abraham.

Panggilan untuk kita saat ini, juga sama seperti panggilan kepada Abraham untuk mengikuti Tuhan. Maka kita harus meninggalkan: sifat, kebiasaan dan lingkungan serta dunia kita yang lama yang mungkin membelenggu kita. Sehingga kita yang hidup dalam panggilan Tuhan, adalah manusia yang baru yang dibaharui di dalam Kristus. Pembaharuan kita, sesungguhnya telah dimulai ketika kita “Dibaptis “, karena di dalam Baptisan, Tuhan telah memanggil kita : keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib, yang dahulu bukan umat Allah sekarang menjadi umatNya, yang dahulu tidak dikasihani sekarang telah dikasihani (1 Pet.2:9-10). Di dalam baptisan , kita juga telah disunat, tetapi bukan dengan sunat yang dilakukan manusia, melainkan dengan sunat Kristus, yang terdiri dari penanggalan akan tubuh yang berdosa (ay.11). Dan setiap orang yang dibaptis saat ini diberi nama yang baru, yaitu “Kristen” (pengikut Kristus).

Di dalam baptisan, kita dilahirkan kembali di dalam hidup yang baru. Karena dengan baptisan, manusia lama kita (tubuh yang berdosa), telah mati dan dikuburkan bersama dengan Yesus, supaya manusia baru kita dibangkitkan bersama-sama dengan Yesus. (bnd.Rom.6:1-14). Dan sekarang, seharusnya Kristuslah yang hidup di dalam kita, sebagaimana kesaksian Rasul Paulus yang berkata : “Namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” (Galatia 6:20). Maka supaya kita bertumbuh dan disempurnakan, hendaknya kita menerima makanan sehat, seperti bayi yang baru lahir yang selalu rindu akan susu yang murni (Quasimodogeniti). Untuk itu, marilah kita tetap hidup, berakar dan dibangun di dalam Kristus. (Ay.6-7), supaya kita senantiasa dibaharui dan disempurnakan di dalam Dia. Dan marilah kita menyaksikan kuasa Kristus, yang berkuasa untuk menaklukkan dan mempermalukan filsafat kosong dan roh-roh dunia (ay.8) serta pemerintah-pemerintah dunia (ay.15). Maka jangan lagi kita terkesima dengan berbagai ajaran yang mempesona kita, tetapi terimalah ajaran yang murni yaitu Firmannya. Selamat bertumbuh dalam Kristus ! Amin.

Read More......

29 Januari 2009

renungan


“ MENGAMPUNI ADALAH KEADILAN KRISTIANI ”
( Hakim-hakim 11 : 1 - 11 )



“Judika “ adalah salah satu nama Minggu, yang berarti : “Berilah keadilan kepadaku, ya Allah”. Secara umum, konsep keadilan menurut pikiran banyak orang, adalah adanya keseimbangan, kesetaraan dan kesamaan. Berangkat dari konsep berpikir yang demikian, dalam bersikap dan berbuat kepada orang lain, sering sekali kita bertolak dari apa yang sudah diperbuat kepada kita. Sehingga sikap perbuatan kita sangat dipengaruhi situasi (Pasif, tidak proaktif). Dalam sikap yang demikian terjadi hukum pembalasan, dan anehnya masyarakat secara umum melegalisir sikap yang demikian sebagai keadilan. Hukum pembalasan, sebagai konsep keadilan umum di dalam kehidupan , nyata kita lihat dalam praktek hidup sehari-hari. Sering sekali manusia berpikir, bahwa satu perbuatan yang baik adalah adil bila dibalas dengan satu perbuatan baik juga. Anehnya, untuk satu perbuatan yang jahat, yang kita terima dari orang lain, rasanya tidak cukup pembalasannya satu kali saja. Bila demikian, kita yang sering menuntut keadilan, apakah sesungguhnya sudah adil di dalam kehidupan kita.

Melalui perikop bacaan Minggu ini, kita diingatkan kembali tentang keadilan Allah yang telah menyelamatkan kita. Dia yang telah dihianati oleh manusia, tetap mengasihi, tidak memperhitungkan dosa dan pelanggaran manusia itu dan tidak membalaskannya. Tuhan malah mengorbankan AnakNya yang tunggal Yesus Kristus Untuk menyelamatkan manusia yang berdosa tersebut. Yesus datang bukan untuk menghakimi, tetapi untuk menyelamatkan (baca Yoh.3:16-17). Dalam diri Yesus sangat nyata Firman yang berkata :”…sebab kasih itu menutupi banyak sekali dosa” (1 Pet.4:8). Tindakan keadilan Tuhan yang terbalik dengan konsep keadilan dunia tersebut, dalam perikop ini dapat kita lihat di dalam sikap dan perbuatan Yefta terhadap kaum kerabatnya yang telah menghina, menolak dan bahkan mengusir dia, yang kemudian datang minta tolong ketika mereka menghadapi kesulitan dan ancaman dari orang Amon. Yefta datang dan maju berperang melawan orang Amon untuk menyelamatkan saudara-saudaranya yang dulu menghina dan menolaknuya. Adilkah tindakan ini ? Bukankah menurut pikiran manusiawi dia dapat saja mengatakan : “rasakan, inilah pembalasan Tuhan akan dosamu, dll ?”. Tidak, sumpah serapah yang demikian tidak dilakukan Yefta, dan dia tidak membalas dendamnya dengan dramatis seperti cerita film India. Dia datang dengan kasih dan pengampunan dan menyelamatkan, inilah keadilan yang sejati.

Saudara/i yang dikasihi Yesus, Firman ini mengajar kita, untuk tidak menghakimi dan menolak seseorang, karena statusnya, silsilahnya, dosanya masa lalu dan lain sebagainya (baca Matius 7:1-5). Sebaliknya, janganlah membalas kejahatan dengan kesajahatan tapi kalahkanlah yang jahat dengan yang baik, (baca Roma 12:17-21) sebab untuk itulah kita dipanggil mewujudkan keadilan Tuhan. Amin.

Read More......

15 Januari 2009

renungan

“ KASIH KRISTUS ADALAH SUMBER SUKA CITA”

( Kisah Para Rasul 3 : 1 – 10)

Banyak orang berpikir bahwa segala persoalan dapat diselesaikan dengan materi (uang), misalnya: kebutuhan primer (sandang, pangan dan papan), pendidikan, kesehatan bahkan kebahagiaan atau suka cita. Pernyataan ini, didukung oleh beberapa falsafah hidup manusia, secara khusus orang Batak dengan tiga cita-cita hidupnya, yaitu : Hamoraon, Hagabeon dan Hasangapon. Dari tiga citacita di atas, orang Batak menempatkan “Hamoraon” (Kekayaan) menjadi citacita pertama. Berkenaan dengan itu, di sumatera, ada anekdot yang berkata :”Semua Urusan Memakai Uang Tunai”(SUMUT). Tanpa harta (materi) manusia merasa hidupnya tidak sempurna, bahkan cenderung merasa lumpuh. Sebaliknya, ada manusia yang lumpuh secara fisik, tapi dia tidak merasa lumpuh, karena dia memiliki materi untuk menyediakan segala fasilitas mendukung hidupnya. Tetapi, benarkah demikian ?


Sidang jemaat, yang dikasihi Yesus Kristus, Perikop bacaan di dalam Kebaktian Minggu kita hari ini, mengajar kita, bahwa emas dan perak (materi) bukanlah jawaban atas seluruh persoalan, dan bukan sumber suka cita yang sempurna. Sebagaimana diceritakan, ada seorang laki-laki yang lumpuh sejak lahirnya, yang setiap hari diusung dan diletakkan di pintu Gerbang Bait Allah yang bernama “Gerbang yang Indah”. Orang banyak, mungkin selalu memberikan sedekah (uang), dengan pemikiran pemberian tersebut dapat menolong dan menjawab kesulitan laki-laki yang lumpuh tersebut. Pemberian itu mungkin menolong, tapi tidak membebaskan laki-laki tersebut dari kelumpuhannya. Dia tetap lumpuh dan tetap menggantungkan hidupnya dari pemberian orang banyak. Dalam kondisi yang demikian, dia bertemu dengan Petrus dan Yohanes, yang menyuruh dia berpaling menatap mereka (Petrus dan Yohanes). Laki-laki lumpuh itu, menoleh dengan harapan akan memperoleh sesuatu (mungkin emas dan perak), tapi Petrus berkata :” Emas dan perak tidak ada padaku” tapi apa yang kupunya itulah yang kuberikan kepadamu: “Demi nama Yesus Kristus, berjalanlah”. Seketika itu juga orang lumpuh tersebut bebas dari kelumpuhannya, berjalan dan melompat memuji Tuhan


Dari uraian di atas, nyata bagi kita bahwa Kuasa dan Kasih Kristus telah membebaskan orang lumpuh tersebut, sehingga berjalan dan memperoleh suka cita. Bila kita merasa lumpuh oleh sulitnya kehidupan dan hati kita tidak pernah merasakan suka cita yang sempurna, maka terimalah kuasa dan kasih Yesus yang menguatkan kita menjalani kehidupan dan bersukacita di dalam Kristus. Selanjutnya, adalah tugas setiap orang yang telah menerima kuasa dan kasih Yesus untuk membagikan kuasa dan kasih tersebut kepada semua orang. Sehingga setiap orang percaya (Gereja) menjadi sumber pembawa suka cita dan kesembuhan bagi banyak orang. Dengan demikian dimanapun orang percaya (gereja) hadir, orang banyak akan berpaling kepadanya dan melihat kemuliaan Allah sehingga Nama Tuhan dipermuliakan dan semua orang beroleh suka cita yang dari Kristus. Bersukacitalah dalam Kristus (Letare).

Amin.

Read More......

14 Januari 2009

renungan

“YESUS-LAH NAKHODA HIDUP”
(Markus 4 : 35 – 41)
“Sipata naeng lonong do au, so halugaan galumbang i, tu dia ma haporusanki…ingkon hutiop tongtong Jesus i “ ( Terkadang jiwaku hampir tenggelam, tiada lagi daya untuk mengayuh bahtera hidup, siapakah yang menjadi penyelamatku ? Pegangan hidup satu-satunya hanyalah Yesus). Kalimat di atas adalah penggalan syair lagu pujian (koor) yang sudah sangat sering kita dengar. Syair tersebut menggambarkan kehidupan, seperti seorang yang berlayar di laut lepas dan menghadapi ombak serta badai samudera yang mengombang-ambingkan bahkan hampir menenggelamkan perahu yang ditumpanginya. Situasi yang demikian boleh saja membuat orang putus asa, tetapi syair lagu ini ditutup dengan satu kesaksian yang sangat indah, yaitu dia berserah sepenuhnya kepada Yesus dan Yesus menolong dan membimbing serta menyelamatkan jiwanya melewati gelombang yang ganas dan badai taufan yang menghempas. Di dalam Yesus dia diselamatkan.

Sidang jemaat, yang dikasihi Yesus Kristus, perjalanan hidup kita saat ini, dapat diibaratkan seperti syair lagu di atas, yang menggambarkan seseorang yang naik perahu mengarungi samudera kehidupan yang menawarkan berbagai keindahan yang boleh kita nikmati. Terkadang keindahan dan angin semilir yang bertiup bisa saja membuat kita terbuai dan bahkan terlelap. Tetapi bisa saja tiba-tiba semuanya menjadi tidak ramah, dimana angin tiba-tiba bertiup kencang, dan hujan badai datang melanda bahtera hidup kita. Tentu hal itu akan membuat kita panik, marah , kecewa, ketakutan dan putus asa. Bila hal ini terjadi, apakah yang akan kita lakukan ? Sikap yang paling tepat adalah memasrahkan diri kepada Nakhoda (juru mudi) perahu/kapal yang kita tumpangi. Demikian juga yang dilakukan para murid Yesus di dalam perikop ini, pada awal pelayaran semua tenang dan bahkan Yesus tidur diburitan kapal, tetapi tiba-tiba taufan mengamuk dengan dasyat dan ombak masuk ke perahu mereka. Ketika mereka menghadapi taufan dan gelombang yang sangat besar tersebut, mereka membangunkan Yesus, dan Yesus-pun bertindak untuk menenangkan angin dan badai, sehingga mereka selamat samapi di seberang.

Satu hal yang menarik dari Perikop bacaan kita ini, adalah : bahwa walaupun bersama-sama dengan Yesus, tetapi mereka juga menghadapi gelombang dan taufan tersebut. Biarpun taufan datang melanda mereka, tetapi mereka tidak binasa, karena Yesus berkuasa atas badai dan taufan tersebut. Hal ini menjadi perenungan bagi kita saat ini, dimana kita harus menghadapi berbagai gelombang hidup, pergumulan, kesulitan dan kesedihan. Bila hal ini terjadi, jangan kiranya kita merasa bahwa Yesus telah meninggalkan kita. Janganlah kita berputus asa, tetapi berserah kepada Yesus, agar Dia menenangkan badai hidup yang kita hadapi. Ingatlah firman Tuhan yang berkata :”Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepadaNya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1 Pet.5 : 7). Demikianlah, hidup kita dalam segala hal kiranya mata kita tertuju kepada Tuhan Yesus ( Okuli ). Selamat mengarungi hidup ini, Tuhan Yesus memberkati.
Amin

Read More......

06 Januari 2009

Logo

LOGO TAHUN DIAKONIA HKBP 2009

1. Domba Putih Memikul Salib Kuning
Yesus Kristus sebagai Anak Domba Allah dengan penuh ketulusan dan keberanian memikul salib untuk menghapus dosa manusia (Yohanes 1:29). Pengorbanan itu akhirnya membuahkan kemuliaan.

2. Tujuh Bulir Padi Kuning
Padi yang menguning adalah lambang kesejahteraan yang penuh kemuliaan. Setiap orang percaya terpanggil untuk mensejahterakan masyarakat dan seluruh ciptaan (Yeremia 29:7)

3. Cawan Merah Perjamuan Kudus
Darah Yesus di kayu salib telah menebus dosa manusia. PengorbananNya menggerakkan setiap orang untuk berbelas kasih kepada sesama. Perjamuan kasih adalah wujud diakonia bagi sesama (Kisah Para Rasul 2:41-47; 4:32-37)

4.
Bumi Daratan Hijau dengan Laut Biru
Gereja = Gereja se-Dunia secara bersama mewujudkan Alternative Globalization Addressing People and Earth (AGAPE). Orang percaya bertanggungjawab untuk menyelamatkan bumi dengan memelihara lingkungan, menegakkkan kedamaian dan keadilan di tengah-tengah dunia.



Read More......

03 Januari 2009

Ucapan Selamat

PENDETA:

Pdt. Djekson Sirait, STh

CPdt. Muribo Pasaribu, STh

CPdt. Arjuna S. Tampubolon, STh


dan


Seluruh Majelis HKBP Immanuel Kelapa Gading


serta


Seluruh Jemaat HKBP Immanuel Kelapa Gading



MENGUCAPKAN


Selamat Hari Nata, 25 Desember 2008

dan

Selamat Tahun Baru, 01 Januari 2009

serta

Selamat Memasuki Tahun Diakonia HKBP



Tuhan Yesus Memberkati.

Read More......

Hidup itu singkat